Senin, 16 Maret 2015

Cedera Membaik, Konate Siap Hadapi Lao FC


BANDUNG - Kondisi pemain kunci Persib Bandung, Konate Makan, berangsur membaik atas rasa nyeri di kakinya akibat infeksi sekunder di sela-sela jari kaki kirinya. Rasa nyeri tersebut dirasakan karena pemakaian sepatu yang dianggap tidak cocok dengan kakinya.

Di beberapa kali sesi latihan, pemain asal Mali ini terpaksa mengikuti latihan terpisah. Hingga Senin (16/3), jarinya pun masih diplester guna mengurangi gesekan. Ia dianjurkan untuk meminum obat agar rasa nyerinya tidak kambuh. “Sekarang Alhamdulillah sudah baikan lagi. Insya Allah sudah siap lawan Laos (Lao Toyota FC). Disuruh minum anti biotik juga agar tidak sakit lagi,” ungkapnya.

Persib akan kedatangan tim asal Laos, Lao Toyota FC, untuk menjalani pertandingan tiga di Grup H AFC Cup, Rabu (18/3). Konate mengaku tidak mengetahui kekuatan calon lawannya tersebut. Namun ia selalu yakin untuk raih 3 poin untuk Maung Bandung, apalagi bermain di kandang sendiri yang bakal didukung ribuan bobotoh. “Kekuatan Laos belum tahu, pokoknya tiga poin untuk kemenangan Persib apalagi di Bandung wajib menang. Mudah-mudahan lolos Grup H,” paparnya semangat.

Saat ditanya mengenai target gol yang akan dia ciptakan, pemain berusia 23 tahun ini mengatakan tidak terlalu ambisius dalam perburuan top scorer. Menurutnya kemenangan tim adalah segalanya demi kesuksesan. “Ya Insya Allah saya berdoa untuk mencetak gol, tapi lebih utama kemenangan untuk Persib,” ujarnya. Simamaung

Main Di Kandang, Kesempatan Persib Ambil 3 Poin


BANDUNG - Tren positif yang diperlihatkan oleh Persib Bandung dalam kiprah mereka di AFC Cup 2015 diharapkan oleh Supardi Nasir bisa berlanjut. Maung Bandung memang akan kembali melangsungkan pertandingan menghadapi Lao FC di Stadion Si Jalak Harupat, Rabu (18/3) mendatang. Bek yang kerap beroperasi di sisi kanan itu menegaskan bahwa dia dan rekan-rekan satu timnya akan berusaha keras merebut poin penuh.

“Mereka pengen dapat poin, kita juga pengen dapat poin, lebih penting ke kitanya sih. Itu urusan mereka kalau ingin dapat poin juga. Kita harus fight, kita harus lebih dari mereka untuk mendapatkan poin penting pertandingan besok,” ujar Supardi dalam wawancara di Football Plus Arena, Senin (16/3).

Persib sendiri saat ini diuntungkan dengan status mereka sebagai tuan rumah. Karena faktor cuaca yang sudah bersahabat dirasa tidak akan menjadi penghadang seperti saat bertandang ke Hanoi maupun Yangon. Selain itu sorak sorai para ribuan bobotoh yang hadir memenuhi tribun Si Jalak Harupat pun dianggap Supardi menjadi suntikan motivasi tersendiri.

“Main di kandang jadi kesempatan kita untuk menambah poin, kalau kita main di kandang kita dengan dukungan suporter fanantik kita itu sangat membantu kita,” ungkapnya.

Mengenai kekuatan wakil dari Laos tersebut, pemain bernomor punggung 22 itu mengaku masih buta akan cara bermain skuat arahan David Booth tersebut. Namun Supardi berharap hasil sempurna bisa menaungi Maung Bandung di akhir pertandingan. “Belum tahu, tapi mudah-mudahan kita dapat hasil positif dan poin maksimal,” usainya. Simamaung

Walau Tak Miliki Kaki Lagi Polisi ini Tetap Semangat Jalankan Tugas


BANDUNG - BENI Hendrik Hernawan (38) tetap ikhlas dan terus bersemangat hidup tanpa kedua kaki dan hanya mengandalkan kursi roda untuk mejalani aktifitas sehari-harinya. Polisi Bagian Administrasi Lalulintas berpangkat Aipda yang bertugas di Polsek Rancaekek, Kecamatan Rancaekek, Kabupaten Bandung, ini mengalami musibah saat menjalankan tugas 10 tahun silam, tepatnya pada 28 November 2005.

KEJADIAN yang menimpa dirinya itu saat ia masih bertugas di Unit Laka Polres Bandung. Pada malam kejadian itu ia mengaku ditelepon oleh seorang warga yang melaporkan adanya kecelakaan lalu lintas di Nagreg, tepat di depan rumah makan Mak Ecot.

Beni bersama rekannya segera menuju tempat kejadian untuk melakukan olah tempat kejadian perkaran (TKP). Karena kecelakaan terjadi di tengah jalan, ia berusaha menderek kendaraan yang kecelakaan tersebut dengan truk derek.

"Saya mau ngederek kendaraan tersebut karena takut menggangu aktivitas arus lalu lintas," Ujar Beni, ayah dua orang anak kepada Tribun, Minggu (15/3).

Saat itu sedang hujan dan penerangan lampu kurang. Dia berdiri di antara truk derek dan kendaraan yang kecelakaan. Tiba-tiba bus pariwisata tujuan Solo-Jakarta melaju dengan kecepatan tinggi menabrak belakang truk dan menghimpit kedua kaki Beni.

Kedua kaki beni mengalami luka parah, tulangnya patah dan tempurung lututnya remuk. Akhirnya kedua kaki Beni harus diamputasi.

Beni pernah mengalami depresi selama kurang kebih 1,5 tahun setelah kecelakaan yang menimpanya. Ia merasa minder dan tidak bersemangat menjalani hidupnya. Ia juga tidak mau keluar rumah dan bertemu orang. Namun dukungan istri, keluarga, anak-anak, rekan-rekan dan dari pimpinan, Beni kembali bersemangat menjalani kehidupannya.

"Saya mikir kalau saya terus seperti ini, gimana nasib istri dan anak saya, maka dari itu saya bangkit, untuk sekarang Insya Allah," ujar Beni.

Dengan keterbatasan fisiknya, hubungan Beni dengan para pemimpinannya tetap terjalin dengan baik. Bahkan Kapolsek Rancaekek Kompol Kusnadi dan Kanit Lantas Polsek Rancaekek, AKP Chevy sering memberikan semangat kepadanya. Tak hanya itu, Kapolres Bandung, AKBP Jamaludin juga sering memberikan dukungan dan semangat ekstra terhadap prajuritnya itu.

Beni bersyukur, rasa sayang dan perhatian dari pimpinan-pimpinannya menjadikannya terus semangat bekerja dan mengabdikan diri kepada negara hingga saat ini. Bahkan Beni diberi bantuan sepasang kaki palsu baru-batu ini oleh Kapolda Jabar Irjenpol Iriawan untuk menunjang aktifitasnya. Pemberian kaki palsu itu sudah 2 kali ia terima, yang pertama adalah pemberian dari Kapolres Bandung pada 2007.

Kini Beni tinggal di Asrama Mapolsek Rancaekek seorang diri sejak 2010. Ia memilih tinggal di sana alasannya rumahnya cukup jauh dari Mapolsek Rancekek. Rumah Beni di kawasan Cileunyi, Kabupaten Bandung. Istri dan anak-anaknya sering menjenguk Beni dua hari hingga tiga hari sekali ke asrama tersebut.

"Anak-anak juga masih sekolah di Cileunyi, jadi biar di sana dulu sama istri, kasihan kalau anak-anak ke sini, soalnya bentar lagi kelulusan. Mungkin tahun depan ikut ke sini. Anak yang satu mau SMA dan satu mau ke SMP," katanya.

Beni tak bisa menyembunyikan kerinduan pada istri dan anak-anaknya. Ia berharap bisa tiap hari melihat dan bermain dengan istri dan anak-anaknya seperti dulu saat masih sehat dan gagah.
Kehidupan di asrama yang seorang diri tanpa bantuan orang lain, tak membuat Beni mengeluh. Ia justru terlihat mandiri mengerjakan segala sesuatunya setiap hari, seperti, memasak, setrika, makan, mandi, mengambil air wudu, dan sebagainya. Kegiatan itu, ia lakukan dengan penuh rasa ikhlas dan syukur.

"Alhamdulillah, saya bersyukur masih bisa mengerjakan segala sesuatunya sendiri tanpa bantuan orang lain, dan saya masih mampu," kata Ayah dua orang anak itu.

Beni berpesan, agar semua penyandang disabilitas yang ada di seluruh Indonesia untuk tetap semangat menjalani kehidupan. "Keterbatasan fisik itu bukan halangan untuk terus berkarier atau berkarya, semangatlah, jadikanlah kekurangan kita menjadi kelebihan. Bahwa kita mampu beraktivitas atau pun melakukan sesuatu hal seperti orang lain yang mempunyai fisik lengkap," ujarnya

Beni sama sekali tak merasakan kehidupannya serba kekurangan, ia justru merasa kehidupannya lengkap dan bahagia walaupun tanpa kedua kakinya. Dengan dukungan dan kasih sayang orang-orang terdekatnya, ia akan tetap berkarier dan terus berjuang menjalani kehidupannya. Tribun 

Begini Sikap Warga Tentang Pembangunan PLTSA di TPA Babakan


BANDUNG - Setelah sempat mendapat penolakan perpanjangan penggunaan lahan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Babakan oleh warga sekitar, kini Pemkab Bandung berencana mengoperasikan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSA) di lahan tersebut.

Saat ini Pemkab Bandung telah menandatangani nota kesepakatan dengan salah satu investor untuk pembangunan PLTSA. Namun pembuatan PLTSA yang digadang-gadang bisa mengatasi masalah sampah juga kembali mendapat penolakan dari warga.

Indra Bayu (30), salah seorang warga Kampung Lembang, Desa Babakan, RT 1/11, Kecamatan Ciparay menuturkan, tak pernah diberitahu jika Pemkab Bandung berencana membangun PLTSA. Padahal beberapa waktu lalu Pemkab baru menandatangani kesepakatan dengan warga untuk perpanjangan TPA.

"Kesepakatannya kan cuma sampai Juni 2016. Ini kami juga sedang buat spanduk penolakan pembangunan PLTSA. Bukan waktu yang tepat untuk bangun PLTSA," ujar Indra saat dihubungi, Senin (16/3/2015). Tribun

BEM Se-Jabar Ultimatum Jokowi-JK

Tribun Jabar

Mahasiswa yang tergabung dalam Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI) Jawa Barat membubuhkan tandatangan di kain putih sebagai bentuk dukungan untuk menurunkan Joko Widodo dari kursi Presiden RI saat melakukan unjuk rasa di depan Gedung Sate, Kota Bandung, Senin (16/3/2015).

Luncurkan Layanan 4G Telkomsel Berharap Serap 400 Ribu Pelanggan


BANDUNG - Peluncuran layanan 4G oleh Telkomsel di Kota Bandung pada hari Minggu (15/3) diharapkan mampu memberi manfaat bagi 4 juta pelanggan yang sudah ada atau menarik pengguna baru. Namun untuk hari ini Telkomsel mencatat baru ada 200.000 pelanggan yang benar-benar siap menikmati layanan internet kecepatan tinggi.

Hal tersebut diungkapkan oleh General Manager Sales Telkomsel Region Jawa Barat, Hasan Kurdi. Angka 200.000 adalah pelanggan yang tercatat mengakses layanan Telkomsel dengan perangkat yang kompatibel untuk layanan 4G di frekuensi 900 Mhz.

"Kami harapkan setelah peluncuran ini jumlahnya segera berlipat dua," kata Hasan.

Layanan 4G di Kota Bandung sebetulnya sudah bisa dinikmati sejak awal Maret dan pengguna sudah bisa menukar kartu SIM mereka ke Grapari. Dalam fase yang tidak disosialisasikan secara luas itu saja sudah ada 2.000 pengguna yang mendaftar.

Disinggung mengenai cakupan layanan 4G Telkomsel di Kota Bandung, Hasan menuturkan bahwa layanan mereka bisa menjangkau seluruh wilayah kota kembang. Melalui 100 menara pemancar yang dipasang, Telkomsel sudah bisa melayani koneksi 4G di seluruh pusat perbelanjaan yang ada.

"Kota Cimahi juga kebagian karena ada tiga menara pemancar yang dipasang di sana," kata Hasan tanpa bersedia merinci di mana.

Termasuk juga Jalan Asia Afrika yang dipergunakan sebagai tempat penyelenggaraan acara peringatan ke-60 Konferensi Asia Afrika pada bulan April. Hasan memastikan bahwa mereka mengerahkan peralatan tambahan untuk menjamin bahwa para peserta bisa berselancar internet dengan gampang. Kompas

Minggu, 15 Maret 2015

Jelang Peringatan KAA Gedung "Swarha" Masih Terlantar

Photo Dudi Sugandi

BANDUNG - Jika melintas ke Jalan Asia Afrika, sederetan gedung bersejarah akan menjadi pemandangan khas yang bisa ditemui. Tapi sesuatu yang ganjil akan tampak di saat melihat gedung tua di samping Mesjid Agung yang seperti dianaktirikan.

Menyedihkan. kosong, kusam, tak terawat, dengan cat yang mengelupas dan warna yang memudar. Beberapa kaca jendelanya bolong, retak bahkan pecah.

Tulisan Swarha yang tepat berada di puncak gedung pun salah satu hurufnya sudah tidak utuh. Padahal, seperti halnya gedung-gedung bersejarah di jalan ini, bangunan ini memiliki nilai historis.

Mewakili gaya arsitektur klasik, electicism dengan banyak dekorasi. Gedung Swarha dibangun antara tahun 1930-1935 oleh arsitek Belanda, Wolff Schoemaker. Bangunan ini semula berfungsi sebagai toko dan hotel.

Para jurnalis yang meliput Konferensi Asia Afrika tahun 1955 seperti Rosihan Anwar pernah menginap di hotel ini. Kini, hanya lantai bawah gedung yang dimanfaatkan untuk toko. Sedangkan empat lantai lainnya dibiarkan tak berfungsi.

"Sampai tahun 1965 gedung Swarha ini adalah hotel, setelah tahun 1965 dibiarkan kosong.