Tampilkan postingan dengan label Edukasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Edukasi. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 30 September 2017

Trip Kuliner di Padang

Hai, selamat siang
Apa kabar semua? Semoga selalu sehat ya.

Btw, udah lama sekali rasanya gak nulis di blog ini. Mohon maaf kepada pembaca semua yang lebih sering melihat postingan video yang aku share dari youtube.

Beberapa tahun lalu aku sempat membuat sebuah usaha kecil-kecilan, sebagai middle-man sih, namanya KIRA Food & Snack. Usaha ini sempat terhenti karena kesulitan dalam me-manage urusan-urusannya, salut dengan usaha yang juga berposisi sebagai middle-man tapi tetap jalan sampai sekarang. Eh ini aku bahas middle-man pada tau gak kamsud nya? Dalam dunia usaha, middle-man bisa diumpamakan sebagai distributor, penengah, dll. Aku pernah nonton film bertema bisnis, yah banyak kekerasannya juga sih, yang nonton Layer Cake pasti tau. Disana sang bisnisman tua berkata pada pemeran utama (Daniel Craig) kalau bisnisman yang baik adalah middle-man yang bagus. Usaha-usaha digital yang kita lihat saat ini rata-rata mengambil peran sebagai middle-man seperti Tokopedia, Bukalapak, Olx, Sribulancer, Youtube, dll.

Ok, cukup sudah soal middle-man nya ya, kita beralih ke tema yang ingin dibahas. Kenapa aku ingin bahas soal kuliner (lagi)? Karena ternyata tulisan lama ku Kuliner Murah Meriah Di Padang berada di puncak pencarian di blog ini, menjadi postingan paling trend. Terima kasih untuk semua pembaca yang sudah membaca. Namun postingan tersebut tayang dari tahun 2013 kemarin, dan Kota Padang sendiri selalu berubah-ubah dari waktu ke waktu. Jadi aku harus melakukan pembaharuan supaya informasi nya tidak kadaluarsa.

Aku berusaha menghidupkan kembali KIRA Food & Snack, masih sebagai middle-man tapi tidak menjual makanan lagi, melainkan membuat review makanan dan snack di Sumatera Barat yang paling up to date, ya 2017 ini. Tidak lagi berbentuk tulisan saja, namun ada video nya. Jadi teman-teman semua bisa langsung merasakan keseruan di tempat tersebut. Video ini diberi nama KIRA Culinary Trip dan akan dipandu langsung oleh saya yang selalu berada di balik layar blog ini, hehe. Tentu gak akan selalu sendiri, di beberapa video aku akan ditemani beberapa orang seperti wanita tercinta, Ika. Dan mungkin juga teman-teman lain, bahkan mungkin kamu yang sekarang sedang membaca tulisan ini, mana tau kalian punya rekomendasi tempat makan yang enak di Padang dan sekitarnya dan kita akan syuting bareng, hihi.

So, udah penasaran ya? Silahkan langsung cek video dibawah ya!!!


Langsung ke halaman youtube nya juga bisa, jangan lupa Support nya. Dengan memberikan komentar dan subscribe artinya kalian udah bantu aku untuk terus berbagi informasi. Cukup login dengan akun google mu, kemudian klik Subscribe, gratis kok, gak bayar.

Itu saja informasi hari ini, semoga bermanfaat dan da daaaahhh.

Minggu, 17 September 2017

Bayi Ini Mengalami Kelainan Sejak Dalam Kandungan, Ternyata Ibunya …

Siapa yang tidak ingin memiliki bayi sehat? Semua orang tentu sangat menginginkannya. Untuk itu, semua ibu senantiasa menjaga kondisi kesehatannya, mengkonsumsi banyak nutrisi dan menghindari makanan atau minuman yang berdampak buruk terhadap kesehatan ibu dan bayi. Lantas bagaimana dengan ibu hamil yang perokok?

Setiap ibu hamil yang punya kebiasaan merokok jelas memang berbahaya bagi bayi dalam kandungannya. Karena itu, banyak ibu hamil yang sangat berusaha mati-matian untuk melepaskan dirinya dari kebiasaan buruk merokok ini.


Merokok tidak hanya buruk bagi perkembangan anak dan janin dan kesehatannya, tapi juga memiliki akibat yang sangat fatal! Hasil USG di bawah ini membuktikannya kalau ternyata kebiasaan satu ini membuat bayi di dalam perut sangat menderita!

Seorang ahli dari Inggris meneliti wanita merokok dan tidak merokok yang hamil 24 minggu, 28 minggu, 32 minggu dan 36 minggu serta melakukan USG 4D untuk melakukan perbandingan. Hasilnya sangat mengejutkan! 

Ternyata bayi dalam kandungan wanita yang merokok akan lebih sering memegang bagian hidung dan mulutnya daripada mereka yang tidak merokok, ini juga ternyata berpengaruh pada pertumbuhan janin. Janin yang normal, semakin dekat dengan hari kelahirannya, maka akan mengurangi gerakan di dalam perut ibunya, sedangkan janin dari ibu yang merokok justru akan menyebabkan sistem saraf bayi terganggu dan responnya lebih lambat, akhirnya ini akan berdampak pada pertumbuhan bayi kelak.

Merokok akan menyebabkan pembuluh darah ibu hamil menjadi sempit dan darah menjadi lebih sulit mencapai rahim. Karena itulah bayi juga tidak mendapatkan oksigen yang cukup dan tidak mendapatkan gizi yang seharusnya. Bau rokok sendiri beracun dan bisa mencapai sang bayi lewat pembuluh darah sang ibu.

Karena itulah, merokok selama kehamilan akan meningkatkan kemungkinan bayi mengalami gangguan kesehatan, seperti :
  1. Bayi lahir dengan tubuh lebih kecil, biasanya bayi dari ibu yang merokok rata-rata lebih kecil 198 gram dari ibu yang tidak merokok.
  2. Resiko keguguran atau prematur lebih tinggi
  3. Lebih mudah terinfeksi
  4. 30% lebih memungkinkan mengidap asma atau alergi
  5. Setelah besar lebih besar kemungkinannya untuk menjadi perokok
  6. Kemungkinan untuk menderita gangguan hiperaktif 3 kali lebih tinggi
  7. Resiko terkena kanker
  8. dan banyak penyakit lainnya
Namun, gak cuma perokok saja yang perlu memperhatikan hal ini, perokok pasif juga memiliki resiko yang sama. Karena itulah disarankan begitu tahu hamil, para ibu hamil menghindari rokok dan tempat dimana banyak orang merokok, karena itu sangat berpengaruh pada kandungan.

Kita juga perlu mengetahui kesalahan besar yang selama ini disangka oleh para perokok yang berpikir kalau menghentikan rokok sekaligus justru akan berbahaya bagi janin. Hal ini sama sekali salah, justru sama sekali tidak melukai janin, jadi ini bukan alasan bagi para perokok untuk menghentikan rokoknya pelan-pelan.
Sedangkan setelah melahirkan, jangan mengira kembali merokok sudah tidak ada hubungannya dengan bayimu, justru itu berkaitan sangat erat dengan kesehatan bayi.  “Sebaiknya ibu yang baru melahirkan dan anak bayi berada di dalam lingkungan yang bebas rokok, karena rokok sangfat beracun terutama bagi ASI dan bagi anak bayi. Lingkungan bebas rokok bisa melindungi bayi menjadi perokok pasif, menjadi perokok pasif adalah penyebab bayi bisa mengalami resiko meninggal tiba-tiba.” Kata Michaela Goecke dari biro kesehatan di Jerman.

Paling baiknya, memang para wanita tidak merokok atau memang menghentikan rokoknya untuk selamanya sejak hamil. Kebiasaan buruk seperti ini sangat tidak baik, apalagi untuk bayimu dan dirimu sendiri.

Jadi, untuk semua ibu hamil dan orang-orang di sekitarnya, stop rokokmu sekarang juga atau rokokmu lah yang akan membunuh mu dan bayimu. Mulailah hidup sehat, penuhi vitamin dan mineral. Ibu sehat perlu mendapat asupan kalori tambahan 180 kilo – 300 kilo kalori lebih banyak setiap harinya. Tips tadi bertujuan agar kamu, bayi mu dan keluarga mu tidak menyesal di kemudian hari.

Terima kasih
Keep Healthy

Menuju sumber

Sabtu, 05 November 2016

Kenapa Harus ROG?

Akhirnya di endorse ASUS ROG, ah itu bukan postinganku, itu videonya si Chandra. Well, selama tiga tahun terakhir aku memang ditemani netbook kecil bernama ASUS Eee PC. Aku pertama kali ‘kena’ sama ASUS adalah disaat launching ASUS Fonepad, aku ikut challenge ASUS untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan seputar produknya. Dan yaayy, aku berhasil menjawab sebagian besar pertanyaan dan mendapatkan sertifikat dari ASUS. Bangganya setengah mati, dan sertifikat online itu langsung kupajang di laman facebook ku. Eh, tadi kita bahas apa ya?

ASUS Eee PC ini memang lebih mudah untuk dibawa, cukup dengan tas kecil. Bisa muat netbook, kamera dan buku catatan kecil. Tapi keperluanku cukup banyak, bukan cuma menulis. Aku cukup susah ketika proses editing foto dan video, karena ini netbook gak kuat mameeen. Palingan Adobe Photoshop aku pake yang CS4, Adobe Lightroom pake yang CS2, Adobe Illustrator juga CS2. Disaat semua sudah mengutak-atik Adobe CC, aku masih berkutat dengan masa lalu. Belum lagi editing audio dengan Adobe Auditon, untungnya yang ini lumayan tinggi, CS5. Yang paling kurisaukan adalah processing video dengan Adobe Premier dan Adobe After Effect, ah dia (ASUS Eee PC) tak bisa berbuat banyak.  Kucoba dengan software yang lebih ringan seperti Filmora dan Camtasia. Lumayan, bisa digunakan, walau sedikit lamban.

Aku berpikiran seperti ini, setiap ada kelebihan, pasti lah juga ada kekurangan. Kelebihannya adalah netbook ku ini kecil, mudah dibawa kemana-mana, tidak mencolok. Kekurangannya ya hanya bisa dipakai untuk kegiatan normal saja, tidak untuk yang berat-berat seperti editing foto, audio dan video. Perlu laptop bertipe monster untuk melakukan hal-hal berat tersebut.

Setelah itu aku coba search beberapa laptop bertipe monster. Aku harus menemukan kata kunci yang pas, kucoba “laptop game terbaik”. Booom, ada beberapa pilihan, dan kemudian aku menemukan ASUS ROG. Aku masih belum ngeh dengan ASUS ROG, kupikir ROG hanyalah penamaan standar seperti punya ku, Eee PC. Ternyata setelah kutonton beberapa video, kubaca beberapa artikel dan berita, aku sadar ternyata aku salah. Mungkin jika kalian ingin aku membuat Vlog dari tulisan ini, aku akan menamakannya Video Go Blog. Ya, alasan pertama karena berasal dari tulisan blog. Alasan kedua mungkin lebih masuk akal, karena merasa goblog, gak tau apa itu ROG.


ROG atau Republic of Gamers, wow namanya aja udah keren bos, apalagi spek nya. Tapi kok desainnya kayak desain kostum Iron Man ya? Mungkin ini laptopnya Iron man kali ya. Tapi ini laptop perlu banget buat kalian yang emang hobi main game, apalagi game dengan grafis yang kaya. Dan kalau kalian pengen itu game bisa direkam, perlu recording screen juga kan. Nah, buat jalanin itu semua secara bersamaan tentunya gak akan jadi masalah. Laptop ASUS ROG G752 sudah dibekali spesifikasi hardware yang tinggi, mulai kartu grafis atau VGA dari NVidia “Nvidia Geoforce GTX980M” dengan VRAM DDR5 kapasitas 8GB. Jadi wajar-wajar aja gak ada kendala, dan gambar yang dihasilkan terlihat sangat nyata. Gila, monster banget gak tuh.

Mengikuti seri ROG yang lain, G752 juga menggunakan teknologi G-Sync yang dapat menyinkronkan antara kecepatan render GPU dengan layar. Teknologi ini dapat menghilangkan tampilan gambar yang robek atau patah ketika tengah bermain game. Teknologi lain bernama TurboGear yang dimiliki ASUS ROG G752 adalah teknologi yang memungkinkan pengguna dapat melakukan overclock pada kemampuan kerja GPU yang dimiliki, sehingga kemampuan Laptop dalam memainkan grafis yang berat jadi lebih maksimal. Dari sini terlihat bahwa Laptop Gaming ASUS ROG G752 terbaru memang sangat mengandalkan sisi kemampuan video grafik yang dimilikinya.

ASUS ROG G752 ada dua tipe. Beda antara keduanya cuma dari sisi kapasitas penyimpanan memori internal dan grafis. Buat kalian yang udah gak sabar, nih kukasih tau keunggulan lain dari ASUS ROG G752.

ANTI PANAS

Banyak yang tanya, bener gak ini? Masa iya ada laptop yang gak panas. Secara logika, komponen elektronik yang sedang aktif (dalam keadaan hidup) pasti panas. Kulkas aja yang katanya dingin, mesinnya panas juga kok, coba aja pegang bagian belakangnya (sebaiknya jangan). Tapi, ada sistem pendingin yang bikin suhu panas tadi jadi adem, dan prosesnya cepat. Jadi gak perlu nunggu sejam dulu baru dingin. Selama laptopnya nyala, sistem pendinginnya tetap akan nyala.


ASUS ROG G752 menggunakan teknologi Dual Cooper, dua kipas tembaga yang dipasang di GPU dan CPU. Sehingga, suhu akan tetap terjaga meskipun ini laptop udah overclock.  ASUS ROG G752 juga menggunakan tiga pipa pengalir panas dan teknologi 3D Vapor Pipe yang akan langsung menetralisir suhu dengan cairan di ruangan uap.

Laptop ini memang pas banget sama kebutuhanku sebagai audio editor dan fotografer. Karena software yang kubutukan, memang luar biasa berat. Saat ini aku memang lebih banyak menulis di blog, tapi dengan adanya ASUS ROG G752, sudah pasti kamera yang biasa nya kupakai untuk motret, juga kugunakan untuk rekam video. Ada yang tidak bisa dijelaskan lewat tulisan, dan audio visual membuatnya lebih bagus.

VIRTUAL REALITY

Kartu grafis NVIDIA® GeForce® GTX™ 1070 membuat ASUS ROG G752 bisa VR. Btw, buat kalian yang belum tau VR. Virtual reality (VR) atau realitas maya adalah teknologi yang membuat pengguna dapat berinteraksi dengan suatu lingkungan yang disimulasikan oleh komputer (computer-simulated environment), suatu lingkungan sebenarnya yang ditiru atau benar-benar suatu lingkungan yang hanya ada dalam imaginasi. Lingkungan realitas maya terkini umumnya menyajikan pengalaman visual, yang ditampilkan pada sebuah layar komputer atau melalui sebuah penampil stereokopik, tetapi beberapa simulasi mengikutsertakan tambahan informasi hasil pengindraan, seperti suara melalui speaker atau headphone. Setidaknya itu menurut Wikipedia Bahasa Indonesia. Bahahaha, paragraf macam apa ini?

KEYBOARD GAMING KHUSUS GAMERS GARIS KERAS

Bagi seorang gamer komputer, pastinya keyboard yang bagus akan sangat penting dan dibutuhkan untuk mendukung performa mereka, sekaligus buat keren-kerenan (jangan dicoba untuk menggoda cewek). Makanya, ASUS ROG G752 juga dibekali keyboard canggih laptop gaming yang punya fitur Anti-Ghosting serta beberapa tombol makro untuk mendukung kenyamanan kamu saat bermain game. Btw, tau Anti-Ghostinggak? Bukan hantu ya. Jadi Ghosting ini sebenarnya problem jika ada lebih dari satu tombol yang ditekan. Nah, Anti-Ghosting akan membantu kamu sebagai user agar perintah bisa tetap jalan. Jadi walaupun ada dua tombol yang tertekan waktu kamu mau shot lawan, maka Anti-Ghosting akan mengantisipasinya. Aku gak ngerti algoritma nya gimana, serahkan saja pada ahlinya. Ada juga tombol perekam atau record yang dapat dengan mudah digunakan untuk merekam semua aksi permainan game dari awal hingga akhir.

FITUR GAMING

ASUS ROG G752 juga memiliki komponen pendukung yang sangat memanjakanmu, kayak prosesor Intel Core i7-6700HQ untuk menjalankan berbagai aplikasi game berat. Intel Core i7-6700HQ bakal memberikan performa yang lebih powerful karena sudah memiliki integrated graphic yang lebih baik, clock speedyang lebih cepat, serta hyper threading. Contohnya kayak GTA V, Call of Duty, Sleeping Dogs (Bayu Skak bilangnya GTA Cino), Crysis 3, dll. Selain itu karena layarnya sudah berteknologi Full HD, maka para gamers pastinya lebih betah saat main. Plus ketika main di suasana gelap atau terang, sama aja tetap kelihatan jelas, kan Full HD. Layarnya juga bebas mau ditekuk kayak gimana, karena display nya udah bagus.

Supaya bisa menghasilkan kecepatan kerja yang tinggi dan akses data yang cepat, ASUS ROG G752 juga punya PCIE4 SSD sebagai media penyimpanan dengan tingkat akses data yang sangat cepat jika dibandingkan dengan tempat penyimpanan data yang masih menggunakan harddisk piringan baja. Gak bakal lemot deh, wuuut wuuuuut.

Buat teman-teman gamers, gak cuma gamers sih, karena ini laptop juga dibutuhkan di dunia Fotografi dan Sinematografi, wajib punya ASUS ROG.

HIGH QUALITY AUDIO

Kualitas suara yang dimiliki ASUS ROG G752 sudah sangat-sangat bagus. Karena mereka punya Sonic Studio. Nah, sebagai seseorang yang juga berkecimpung di dunia Audio (Recording, Mixing, Editing, Mastering), aku tau banget kalau audio sangat mempengaruhi user. Coba aja kamu main PES, tapi ambience nya ilang, cuma suara komentator. Pasti berpengaruh ke permainan, kamu jadi gak fokus lah, gak semangat lah, lupa kerjain tugas lah. Oke yang terakhir tidak termasuk.

Satu lagi, ASUS ROG G752 juga punya Sonic Radar, yang ini tujuannya untuk membantu kamu dalam memainkan game nya, namanya juga radar.

THUNDERBOLT


Aku pertama kali mendengar isilah Thunderbolt dari dosenku di tahun 2010. Karena major ku elektronika, maka aku belajar tentang komputer. Thunderbolt ini adalah nama port untuk keperluan transfer.  Saat itu dosenku menjelaskan bahwa teknologi ini jauh lebih cepat dibandingkan USB 3.0, kebayang gak tuh? Intel Thunderbolt 3 ini bisa transfer 40Gb/detik, bit bukan Byte. 1 Byte = 8 bit, jadi hitung sendiri ya. Agar compatible dengan perangkat yang kita miliki, ada port yang umum dipakai, USB 3.1 Tipe C.

Kalian bisa cek spesifikasi lengkap dari ASUS ROG G752 disini.



Tertarik? Dan untuk penutup. Semoga waktu kalian terbuang berguna. Terima kasih.

Kamis, 03 November 2016

Giveaway 10K Followers Maklum Foto

GIVEAWAY adalah event yang diadakan oleh pihak tertentu (biasanya developer software dll) untuk membagikan lisensi produknya secara gratis dan legal. Ada berbagai alasan sebuah perusahaan atau developer membagikan produk mereka secara gratis dan legal.


Hai, dari beberapa waktu yang lalu aku kepikiran untuk bikin giveaway saat aku melihat followers instagram @maklumfoto sudah mencapai 9K lebih. Aku mau bikin disaat followersnya sudah mencapai 10K, dan ini adalah pengumuman awal sebelum followers nya sampai segitu. Giveaway yang aku mau kasih tidak berbentuk barang, apalagi software, karena aku tidak datang dari silicon valley. Yang ingin kuberi adalah Workshop Street Photography, Pemutaran Film dan juga Diskusi.

Sebelumnya aku juga sudah mencoba merubah sistem workshop biasa menjadi mentoring. Hasilnya cukup bagus, karena bisa mempercepat pemahaman dan skills peserta. Walaupun ada kekurangannya juga, peserta yang terbatas dan dibutuhkan beberapa mentor di sesi ini.

Untuk workshop kali ini, aku juga mau bikin beda. Tujuannya, bukan sekadar pengen beda, tapi lebih kepada impact yang dihasilkan. Sebelumnya aku lebih banyak bahas komposisi foto, karena aku punya materi tentang itu. Bahkan aku juga sudah meluncurkan eBook yang kutulis sendiri. Kali ini aku ingin porsinya lebih diperbanyak untuk meningkatkan soft skills. Karena apa? Masih banyak yang takut untuk memotret di ruang publik, takut karena reaksi orang-orang atau takut karena hal lain, khususnya di Padang.

Pemutaran film, aku punya beberapa koleksi film dan video tentang street photography. Banyak pelajaran yang bisa diambil dari sana, aku punya satu film dan satu video liputan bagus untuk ditonton. Diskusi akan diadakan setelahnya, bahas film dan juga bahas penerapannya disini.

Awalnya aku berpikiran untuk membuat ini bersama dengan admin-admin MaklumFoto. Tapi, aku merasa ini agak sulit untuk dilaksanakan bersama, karena kami tidak berada di satu daerah, juga karena kesibukan kami yang berbeda-beda. Aku sudah melempar ide ini ke teman-teman admin, dan mereka setuju, jadi aku sudah mendapatkan ijin.

Untuk melaksanakan kegiatan ini, tentu saja aku butuh partner. Karena ini bukan giveaway berbentuk barang, tidak akan kirim-kirim barang ke rumah kamu, makanya butuh partner dan (mungkin) tim. Nantinya, kegiatan ini akan jadi kolaborasi, kemungkinan besar rekanku iJul (@streettog) ikut ambil bagian. Begitu pun SPF Indonesia (@spfest) dan @udaunipajalan, karena aku juga ikut terlibat di dalamnya.

Detailnya seperti apa? Aku belum menyusun semuanya, tapi konsepnya sudah matang. Jadi tugasku berikutnya adalah menjadikannya dalam bentuk tulisan, mengontak beberapa rekan, dan eksekusi. Tentu saja akan ku share jika ada perkembangan, mungkin di kolom komentar, atau bisa juga di akun sosial mediaku. Jika kalian punya saran, ingin membantuku atau bahkan ingin berkolaborasi juga, aku akan menerima dengan senang hati. Pastinya jika kita punya keperluan yang sama. Silahkan komen dibawah, boleh juga kontak ke 08982698071 (WA) atau @choukyin (Instagram, Facebook, Twitter, Line).

Terima kasih sudah menyempatkan untuk membaca. Semoga waktu kalian terbuang berguna, karena terbuang percuma sudah terlalu mainstream.

Selasa, 01 November 2016

KENAPA AKU TAK IKUT MEMILIH (18+)

Manipulasi adalah sebuah proses rekayasa dengan melakukan penambahan, pensembunyian, penghilangan atau pengkaburan terhadap bagian atau keseluruhan sebuah realitas, kenyataan, fakta-fakta ataupun sejarah yang dilakukan berdasarkan sistem perancangan sebuah tata sistem nilai, manipulasi adalah bagian penting dari tindakan penanamkan gagasan, sikap, sistem berpikir, perilaku dan kepercayaan tertentu.

Oke, sebelumnya aku membahas tentang fenomena ‘street settingan’ yang terjadi di dunia fotografi, khususnya Indonesia. Kali ini aku ingin membahas hal lain, yang ingin dikeluarkan dari otakku. Dari judulnya, mungkin kamu akan berasumsi bahwa tulisanku berkaitan dengan politik, pemilihan kepala daerah, dan jabatan. Tapi semua itu salah, karena aku ingin membahas tentang Halal Tourism.

Namaku Kurniadi Ilham, berdomisili di Padang, asli Payakumbuh dan KTP ku Tanah Datar. Yang ingin kujabarkan dibawah ini adalah tentang Halal Tourism (Pariwisata Halal), dimana Sumatera Barat menjadi nominasi di beberapa kategori. Tulisan ini (sekali lagi) kulabeli 18+, bukan karena konten vulgar, tetapi butuh pemikiran yang dewasa dan luas untuk menanggapinya. Aku menulis disini, di blog ini, karena ini adalah rumahku di dunia maya. Aku menyewa rumah dari Google, tepatnya bloggerdotcom, yang menyediakan rumah gratis.

Kenapa aku tak ikut memilih. Memilih apa? Memilih siapa? Jawabannya memilih, atau lebih tepatnya memberikan vote untuk Sumatera Barat di ajang pemilihan Best Halal Tourism di beberapa kategori. Karena ..... Lebih baik aku memulai nya dari awal.

Aku mengetahui Halal Tourism dari dunia maya, awalnya aku tak begitu mengerti Halal Tourism itu apa. Aku mencari tahu dari beberapa situs tentang itu, dan mendapatkan beberapa penjelasan. Kemudian, disalah satu situs, aku menemukan tulisan “Syariah atau Moslem-Friendly?”. Dua hal ini jelas berbeda, walau tak bisa dipisahkan satu sama lain. Pariwisata yang syariah berarti wisata yang menggunakan kaidah-kaidah Islam dalam pelaksanaannya, contohnya Hotel Syariah. Sedangkan Pariwisata yang moslem-friendly adalah wisata yang ramah terhadap umat muslim, contohnya adalah tempat-tempat wisata yang memiliki fasilitas mesjid atau mushalla. Tak lama setelah aku membaca tulisan itu, aku membuka facebook dan menemukan satu postingan tentang polisi pantai di Prancis menghampiri pengunjung yang memakai burkini (pakaian pantai untuk muslimah), kemudian menyuruhnya untuk membuka burkini tersebut, agar sama dengan pengunjung lain yang memakai bikini. Disini aku berkesimpulan bahwa kejadian tersebut tidak ‘moslem-friendly’.

Kembali ke Halal Tourism. Aku mendapatkan pesan dari salah seorang teman, ada sosialisasi Halal Tourism di Hotel Ibis Padang, mengundang blogger, media massa dan content-creator. Kemudian aku mendaftarkan diri, agar bisa mengikuti acara tersebut. Aku masih penasaran dengan Halal Tourism, pastinya disana ada jawaban yang jelas. Ternyata, acara tersebut diundur selama seminggu dan lokasi nya dipindahkan ke Hotel Inna Muara. Aku sudah mendapatkan konfirmasi dari penyelenggara kegiatan. Mereka juga mengirimkan beberapa file ke emailku, isinya adalah susunan acara dan juga nama-nama narasumber yang akan mengisi acara tersebut. Tema kegiatannya adalah “Optimalisasi Peningkatan Wisata Halal Melalui Media Sosial”, diselenggarakan oleh Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran Pariwisata Nusantara, Kementrian Pariwisata.


Aku mendapatkan banyak sekali informasi tentang Halal Tourism disana. Mereka pun ikut menghadirkan pelaku-pelaku yang ikut terlibat dalam pemenangan Lombok di World Halal Tourism Award. Halal Tourism sebenarnya bukan Syariah VS Moslem-Friendly, melainkan gabungan keduanya. Syariah, yang sudah tentu moslem-friendly. Pernyataan dari beberapa narasumber mematahkan artikel tentang “Syariah VS Moslem-Friendly”. Di tahun 2016, Sumatera Barat sudah memenangkan Halal Tourism Award tingkat Nasional untuk empat kategori. Dari mulai kategori Biro Perjalanan Wisata Halal Terbaik, Destinasi Wisata Halal Terbaik, Restoran Halal Terbaik, dan Destinasi Kuliner Terbaik, berhasil disambar Sumatera Barat. Tentunya ini sebuah prestasi yang bagus dari Sumatera Barat. Apalagi kuliner, siapa sih yang tidak kenal rendang dan nasi padang?

Masuk ke sesi tanya jawab, beberapa peserta diskusi mulai mengajukan pertanyaan. Dibalik semua prestasi itu, kita tentu tak bisa menutup mata terhadap kelemahan-kelemahan pariwisata di Sumatera Barat. Sampah, toilet, pungli, sampai ke posisi content-creator dalam forum ini. Aku mengharapkan jawaban terbaik. Tak hanya itu, aku juga mengharapkan adanya tanya jawab yang sehat, yang bertujuan mencapai hasil yang bagus. Dan ternyata banyak sekali jawaban dan tanggapan yang hadir, aku mengapresiasinya. Kita harus sama-sama membenahi hal itu, mulai dari diri kita sendiri, saling gotong royong. Untuk sampah, akan disediakan banyak tempat pembuangan sampah. Toilet akan dibangun sesuai dengan standar syariah, begitupun tempat ibadah. Untuk pungutan liar, harusnya tidak ada lagi, oknum-oknum yang bermain curang harus ditindak. Posisi content-creator adalah sebagai perpanjangan tangan Kementrian Pariwisata untuk mensosialisasikan Pariwisata Halal kepada masyarakat, dan mengajak masyarakat untuk vote. Obrolan semakin panjang, sampai akhirnya. Pernyataan defensif pun muncul seperti, “Pariwisata kita tak sepenuhnya dikuasai pemerintah, sulit untuk menjangkau beberapa kawasan”, “Perlihatkan yang bagus-bagus saja, yang jeleknya jangan”, “Kalau kamu cinta Sumatera Barat, ayo vote, bersama kita menangkan Sumatera Barat”.

Apa maksud semua ini? Setelah itu, salah satu pembicara membeberkan bagaimana cara memenangkan Sumatera Barat melalui media sosial. Para content-creator ‘dipaksa’ membuat tulisan bagus dan persuasif. Ia memberikan contoh, Joko Widodo, Presiden RI. Jokowi kuat di sosial media, itu adalah salah satu faktor yang membuatnya menang. Ia juga menjelaskan beberapa cara, yang semuanya hampir sama dengan sistem yang diterapkan Stan Greenberg. Cara itu memang bagus, tapi mempunyai kelemahan. Kelemahannya adalah masyarakat akan kecewa, jika ekspektasi berbanding terbalik dengan realita. Beberapa orang mungkin menerima dengan senang hati karena bantuan dorongan pikiran “Cinta Sumatera Barat = Ayo vote, ayo share, ajak teman-teman”. Maaf, aku tak bisa melakukannya, aku bukanlah orang yang cinta buta dengan Sumatera Barat. Aku mencintai tempat ini, dan aku peduli dengannya.

Setiap content-creator punya alasan yang jelas ketika mengkampanyekan sebuah program. Jika program tersebut bagus, sesuai dengan realita, dan menghasilkan dampak yang besar. Pasti ia akan mati-matian mengajak orang untuk ikut dengannya. Begitu pula sebaliknya. Kamu mungkin pernah melihat beberapa youtuber yang mengajak kita memilih ini atau memilih itu, di masa pemilihan Presiden. Saat ini, beberapa diantara mereka menyesal, bahkan ada yang menghapus videonya. Akhirnya mereka harus membuat video klarifikasi bahwa mereka menyesal mendukung salah satu kandidat, dan menyesal karena sudah mengajak subscriber nya untuk ikut dengan pilihannya. Mungkin kamu (pembaca) masih bingung dengan yang kujelaskan, karena aku masih menyinggung kulit. Tak ada pilihan lain, aku harus menjelaskannya secara jelas. Alam Sumatera Barat memang indah, sumber daya alam kita tiada tandingannya. Tapi kamu pasti bisa melihat jelas, sampah di pantai padang, pungli di pantai padang. Apakah aku harus memperlihatkan yang bagus saja? Kemudian bule-bule Dubai itu datang kesini dan berkata “so beautiful” dan kemudian mereka kecewa dengan keadaan disana. Apa yang terjadi selanjutnya? Kalau aku sih, mending gak balik lagi kesana, kasih tau teman-teman, jangan kesana. Apalagi jika yang datang adalah travel blogger dari luar negeri, bisa kamu bayangkan, apa yang akan dia tulis nanti. Bisakah Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran Pariwisata Nusantara, Kementrian Pariwisata mengatakan kepadanya, “tulis yang bagus-bagus saja ya, yang jelek-jelek jangan”.

Di Bulan Agustus kemarin, aku menjadi mentor seorang mahasiswa dari St. Pauli University bernama Ryuki Fujita. Aku dan temanku Ijul mengajarkannya fotografi, videografi, menulis artikel dan public speaking. Ryuki berbagi cerita denganku tentang pengalamannya ikut di program ‘Lead the tourism’. Sebelum datang ke Sumatera Barat, ia mencari tahu tentang Sumatera Barat dari internet. Kemudian ia mendapatkan beberapa informasi dan memberikan reaksi. Ia menyukai pemandangan di Sumatera Barat, tapi juga takut terhadap gempa dan terorisme. Disaat ia sudah tiba di Sumatera Barat, ia menjelajahi beberapa daerah, dan kemudian ia menyadari ia salah. Pemandangan di Sumatera Barat memang indah, tetapi tidak dengan sampahnya. Disini juga tidak ada teroris, yang ada hanya orang-orang lokal yang ramah. Dan Ryuki sangat suka untuk ngopi di warung kopi kecil, karena bisa ngobrol dengan orang-orang disana. Aku memberitahunya, “Filosofi warung kopi adalah, it’s not about the coffee, it’s about conversation with strangers”. Kemudian ia berkata “Kenapa kamu tidak mengandalkan itu? Keramahan penduduk. Itu akan jauh lebih baik dibandingkan kamu mengutamakan alam yang bagus. Maaf, Pantai Muaro Lasak adalah tempat yang tidak menyenangkan. Aku hanya menemukan ketenangan ketika kamu membawaku ke Pantai Universitas Bung Hatta. Dan aku heran disaat kamu berkata tempat ini bukan destinasi wisata. Karena tempat ini jauh lebih bagus dibandingkan dengan Muaro Lasak”.


Kembali ke Halal Tourism. Aku tak mau menjadi tim hore-hore saja. Jika aku tak berada di pihak yang memberi suara untuk Sumatera Barat, itu bukan berarti aku tidak peduli dengan tempat ini. Justru orang-orang yang berdiri di tempat yang sama denganku, adalah orang yang sangat peduli akan daerahnya. Jika ingin mendatangkan turis dan traveller, sebaiknya benahi dulu semuanya. Sehingga semua merasa senang, aman dan nyaman. Program-program pemerintah kita bagus-bagus, beberapa diantaranya sangat-sangat kreatif, sayang eksekusinya lemah. Belum saatnya Sumatera Barat mendapatkan Award seperti ini, khususnya untuk World Best Halal Destination. Jika pengunjung datang dan kecewa (bahkan tidak datang sama sekali), siapa yang akan merana? Kita semua. Hotel akan sepi, karena sepi nya wisatawan mancanegara, bukan tidak mungkin wisatawan lokal juga tidak akan berkunjung. Nelayan akan sedih, walau hasil tangkapannya banyak, hotel tak lagi meminta suplai yang banyak. Perusahaan tour & travel akan mengalihkan target market mereka hanya untuk wisatawan lokal. Kuliner terbaik Sumatera Barat, rendang dan nasi padang akan kembali dinikmati oleh masyarakat kita saja. Semuanya terkena dampak, jika Brand sudah jatuh.


Di akhir tulisan ini, aku hanya ingin berkata. Ini lah alasanku, kenapa aku tak ikut memilih Sumatera Barat di World Halal Tourism Award 2016. Aku tak mengajakmu untuk setuju denganku, jika kamu punya pilihan berbeda, tak akan jadi masalah. Kita takkan bermusuhan, perbedaan pendapat itu biasa. Aku suka Mie Sedap, kamu suka Indomie. Vote atau tidak adalah hak prerogatif teman-teman. 
Satu kata pamungkas untuk penutup. CERDASI!

Jumat, 28 Oktober 2016

Etika - Estetika (18+)

Hai, selamat pisang, aduuh pisang ini panas sekali ya.

Sudah lama rasanya aku tidak menulis disini, ya di rumahku ini. Hanya share video dari youtube, itupun bulan lalu. Tapi yang namanya rumah, akan selalu dikangeni. Eh ini btw ngerti gak ya, yang kumaksud rumah itu ya blog ini. Kenapa? Bagiku rumah adalah tempat aku bisa ngapain aja, karena aku yang punya. Bedanya kalau di rumah asli, ada orang tua. Disini ada google yang akan selalu mengawasi anak-anaknya, kalau ada yang memuat konten dewasa, langsung dikasih label dewasa.

Saat ini aku juga menjadi penulis di http://maklumfoto.wordpress.com, tidak mudah menulis disana, karena aku mewakili satu organisasi atau kelompok, bukan diriku sendiri. Jadi aku harus tetap hati-hati dalam merangkai kata, untungnya para pembaca disana sudah spesifik dari segi hobi dan rentang usia. Aku sangat yakin pembaca yang berusia dibawah 18 tahun pasti sangat sedikit.

Kali ini aku mau bahas apa ya? Entahlah, aku bingung dengan apa yang ingin kubahas. Biasanya aku selalu punya topik utama untuk diulas, tapi saat ini seorang beberapa topik berbeda ingin keluar dari otak agar bisa dijadikan tulisan. Ah, sebaiknya kujadikan beberapa tulisan saja, semoga pembaca nya lebih banyak dibandingkan jika kugabung semua tulisan itu.

Judulnya Etika - Estetika. Kenapa pakai tanda "-"? Kenapa bukan "&"? Aku cuma membayangkan dua hal ini seharusnya ada dalam satu jalur, saling melengkapi satu sama lain, layaknya pasangan ideal, Young Lex feat Awkarin, ah .... bukan yang itu. Tidak banyak tulisan dengan istilah-istilah seperti ini dalam blog ku. Aku hanya memperlakukannya sebagai catatan harian biasa, untuk tema yang berat-berat, biasa nya kutulis di MaklumFoto atau StreetPhotoHunters.

Etika berasal dari bahasa Yunani yaitu dari kata ethos yang berarti adat kebiasaan tetapi ada yang memakai istilah lain yaitu moral dari bahasa latin yakni jamak dari kata nos yang berarti adat kebiasaan juga. Akan tetapi pengertian etika dan moral ini memiliki perbedaan satu sama lainnya. Etika bersifat teori sedangkan moral bersifat praktek. Etika mempersoalkan bagaimana semestinya manusia bertindak sedangkan moral mempersoalkan bagaimana semestinya tindakan manusia. Etika hanya mempertimbangkan tentang baik dan buruk suatu hal dan harus berlaku umum. Secara singkat definisi etika dan moral adalah suatu teori mengenai tingkah laku manusia yaitu baik dan buruk yang masih dapat dijangkau oleh akal. Moral adalah suatu ide tentang tingkah laku manusia ( baik dan buruk ) menurut situasi yang tertentu. Jelaslah bahwa fungsi etika itu ialah mencari ukuran tentang penilaian tingkah laku perbuatan manusia ( baik dan buruk ) akan tetapi dalam prakteknya etika banyak sekali mendapatkan kesukaran-kesukaran. Hal ini disebabkan ukuran nilai baik dan buruk tingkah laku manusia itu tidaklah sama ( relatif ) yaitu tidal terlepas dari alam masing-masing. Namun demikian etika selalu mencapai tujuan akhir untuk menemukan ukuran etika yang dapat diterima secara umum atau dapat diterima oleh semua bangsa di dunia ini. Perbuatan tingkah laku manusia itu tidaklah sama dalam arti pengambilan suatu sanksi etika karena tidak semua tingkah laku manusia itu dapat dinilai oleh etika.

Pusing gak tu? Paragraf diatas memang kusalin dari blog lain, karena ilmu ku gak nyampe sana, aku cuma tau etika adalah bagaimana cara bertindak dan memaknai sebuah hal dalam satu kondisi tertentu.

Etika membahas masalah tingkah laku perbuatan manusia (baik dan buruk). Sedangkan estetika membahas tentang indah atau tidaknya sesuatu. Tujuan estetika adalah untuk menemukan ukuran yang berlaku umum tentang apa yang indah dan tidak indah.

Seperti dalam etika dimana kita sangat sukar untuk menemukan ukuran itu bahkan sampai sekarang belum dapat ditemukan ukuran perbuatan baik dan buruk yang dilakukan oleh manusia. Estetika juga menghadapi hal yang sama, sebab sampai sekarang belum dapat ditemukan ukuran yang dapat berlaku umum mengenai ukuran indah itu. Dalam hal ini ternyata banyak sekali teori yang membahas mengenai masalah ukuran indah itu. Zaman dahulu kala, orang berkata bahwa keindahan itu bersifat metafisika ( abstrak ). Sedangkan dalam teori modern, orang menyatakan bahwa keindahan itu adalah kenyataan yang sesungguhnya atau sejenis dengan hakikat yang sebenarnya bersifat tetap.

Dan paragraf diatas pun ikut disponsori oleh blog lain, itu lah gunanya CTRL+C dan CTRL+V. Selain dua istilah diatas, ada satu istilah lagi yang (secara tidak sengaja) kutemukan saat sedang menyaksikan keseruan komentar-komentar yang tersaji di status beberapa orang rekan di buku wajah, namanya aksiologi. Aksiologi membahas tentang hubungan etika dan estetika. Dua Puluh Tiga Oktober Dua Ribu Enam Belas jadi hari yang cukup panjang. Ada dua event besar yang berkaitan dengan Street Photography di hari tersebut. Aku sendiri mempersiapkan diri untuk acara PadEeH yang ke empat di hari itu, btw yang tidak tahu, PadEeH adalah nama event tahunan hunting street photography di Padang yang diprakarsai oleh FNSH (FotograferNet Street Hunting). Ini kali keduanya aku jadi koordinator acara ini, bedanya tahun lalu aku masih berada di bawah bendera Street Photo Hunter. Tahun ini, aku tidak lagi menjadi bagian pemburu tersebut. Tahun ini aku bersama dengan 'anak' ku yang sempat kubesarkan di Street Photo Hunter. Walau sudah gonta ganti nama, tapi tetap saja akar dari Street Photography Festival Indonesia adalah Padang Street Expo.

Harusnya kita kembali ke Etika - Estetika, aku sudah membuang waktu kalian, para pembaca, cukup lama untuk sekadar nostalgia. Di buku wajah, aku menemukan status seorang rekan dengan caption "Ternodanya Street Photography!", tentunya disertai visual yang membuat kita disuruh berpikir, dan juga penasaran. Btw ini sebenarnya rahasia, tapi aku tak tahan ingin membeberkannya, om Chris Tuarissa adalah seseorang dengan rasa penasaran level tinggi. Yap, next lanjut lagi ya, cukup segitu, aku tak akan meneruskan bagian terakhir itu. Status tadi dipost oleh seorang fotografer senior dari Pasuruan, untuk kebaikan kita bersama aku gak akan kasih tau namanya. Yang jelas depannya Yanto, belakangnya Nius, gitu deh kira-kira.

Setelah melihat itu, aku pun melihat rentetan-rentetan status lainnya, yang menurutku masih berhubungan. Bagi street photographer yang aktif di sosial media, nimbrung di status-status ini adalah daya tarik nomor 1, ketimbang youtube fanfest dengan kontroversi kubu positif dan kubu negatifnya. Tapi status yang paling menohok bagiku adalah "street settingan". Semua status dan komentar tadi, intinya membahas street settingan.

Well, street settingan kuartikan sebagai street photography yang (subjeknya) di setting, baik itu pose atau dari segi penyediaan properti. Street photography yang di setting, tak ubahnya sepert perpustakaan yang ribut, atau pertandingan sepakbola tanpa kartu merah. Kau mengerti maksudku? Jika tidak, belajarlah analogi, kalau perlu lengkapi dengan satir dan sarkasme.

Sebelum mendalami street photography, aku belajar landscape photography, nature photography, conceptual photography, still-life photography dan macro photography. Untuk kategori yang dituliskan terakhir, aku gagal melakukannya, karena macro benar-benar membuatku bingung, mungkin bakatku tidak disana. Salut dengan teman-teman yang bisa memotret 'teman-teman kecil' dalam semak belukar. Conceptual photography, aku sangat kuat disana, setidaknya menurut beberapa orang rekan yang memperhatikanku. Conceptual on the street memang dikenal dalam fotografi, tetapi istilah itu adalah bagian dari conceptual photography. Bagiku, street settingan = conceptual on the street. Conceptual on the street = conceptual photography. Street settingan = conceptual photography. Ini pendapatku, yang didasarkan banyak tulisan tentang Conceptual Photography, Ve Danito adalah idolaku untuk genre yang satu ini.

Permasalahan dan perdebatan muncul karena street settingan dimasukkan sebagai street photography. Padahal sudah ada ketentuan dan batasan-batasan untuk masing-masing genre. Bukankah tujuan kategori/ genre adalah untuk mempermudah kita untuk membaginya sesuai dengan visi misi pengelompokan itu?

Ada banyak definisi Street Photography yang kita temukan, baik di internet maupun forum-forum diskusi. Tapi pada dasarnya, tujuan dan visi misinya sama. Kamu bisa cek beberapa definisi street photography di link ini. Penjelasan dari Setia Nugraha adalah yang paling mewakili menurutku. Cermati poin kedua dari penjelasan Setia Nugraha, "Keadaan/kejadian yang tidak dibuat-buat, melainkan spontanitas, tetapi bisa jadi kedaan yang di harapkan, ataupun keadaan/kejadian yang kebetulan (decisive moment)". Di ruang publik, kita pasti bersinggungan dengan subjek manusia, mengambil gambar dengan cara candid dan/atau menggunakan pendekatan komunikasi terlebih dahulu adalah cara untuk mendapatkan  momen yang ingin dipotret. Yang penting tidak mengarahkan gaya atau pose subjek. Itu termasuk ke dalam etika dalam street photography. 

Menghasilkan karya yang berkualitas dan punya estetika, haruslah tetap memperhatikan aspek etika. Foto mu boleh liar, indah, menawan dan menakjubkan, tetapi ada batasan yang harus kau perhatikan. Itulah tantangannya, itu lah yang akan menjadikanmu fotografer yang berkualitas. Berkualitas di semua aspek penciptaan karya, input-proses-output. Kepuasannya pasti beda dengan karya bernama street settingan, jikalau dikategorikan ke dalam street photography, karena kau membohongi salah satu kriteria pembentuk karya Street Photography, dan itu vital bung. Kecuali kau memang menghadirkannya sebagai salah satu karya Conceptual Photography. Konsep yang bagus, akan menghasilkan kepuasan.

Kuniadi Ilham. Payakumbuh. 2015
Foto diatas, bagaimana menurutmu. Ini foto yang kuambil tahun lalu, saat aku dan teman-teman SPF Indonesia melakukan penelitian karakter daerah dengan pendekatan Street Photography. Apakah menurutmu foto ini dikonsep? Beberapa orang yang mengetahui aku adalah fotografer konseptual di masa lalu, mungkin akan berkata, foto ini dikonsep, disetting. Tapi kau boleh bertanya pada teman-temanku yang ada disana, apa yang sebenarnya terjadi. Aku bahkan juga menuliskan bagaimana foto ini bisa tercipta di Street Photography Composition Series: Self-portrait. Ketika aku mendapatkan email dari kujaja.com bahwa aku terpilih menjadi salah satu nominasi WSP Award 2016, aku tentu saja gembira. Karena apa? Karena aku menikmati prosesnya, dan aku benar-benar berada di dalamnya (street photography), sungguh sebuah kepuasan. 


Penghargaan ini, membuatku semakin terpacu untuk lebih giat dan bersemangat. Hal yang sama akan terjadi di dunia street settingan, jika mereka mendapatkan pujian dan penghargaan, mereka akan bersemangat, untuk melanjutkan street settingan.

Etika dan Estetika akan selalu berdampingan, saling melengkapi satu sama lain. Jangan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan hasil yang indah, begitu juga sebaliknya, semua sudah ada porsinya. Keduanya membentuk keseimbangan, Yin & Yang. Adapun akibat yang muncul karena fenomena ini adalah karya street photography (tanpa settingan) yang menawan, akan dianggap settingan. Hal ini menimbulkan dampak terhadap fotografer, boleh jadi timbul rasa tidak percaya diri, hilangnya semangat, hingga perselisihan, yang akan berujung permusuhan. Akibat lainnya adalah akan banyak bermunculan pakem-pakem baru yang menentang batasan, sehingga tidak relevan lagi dengan street photography sebagaimana mestinya. Forum kritik akan mengalami pengkerdilan, viral dan hits menjadi acuan. Ini akan jadi pekerjaan rumah bagi kita bersama, khususnya para pelaku yang terlibat langsung di dalamnya.

Aku tidak bertujuan untuk membuat kalian setuju denganku. Melalui tulisan ini aku hanya ingin menyampaikan opini ku, berdasarkan data-data yang kupunya tentang street photography, dan juga sebagai tanggapan atas kejadian yang terjadi di lapangan. Hanya satu kata untuk penutup tulisan ini. CERDASI!


Rabu, 06 April 2016

Street Photography, Egoisme dan Etika Part I

Selamat malam

Malam ini saya mau membahas tentang street photography (lagi), namun tidak seperti beberapa tulisan saya sebelumnya di blog ini, di blog street photography festival atau bahan workshop. Saya ingin mengangkat sesuatu yang berbeda diluar teknis ataupun komposisi. Kali ini agak lebih emosional karena lebih kepada pribadi seorang street photographer.

Saat pertama saya menggeluti dunia fotografi, dalam benak saya yang terpikir adalah yang penting suka dulu, baru kemudian kita menggali lebih dalam dan lebih dalam lagi tentang ilmunya. Namun banyak yang merasa bahwa fotografi justru menjadikan dirinya terpaku dengan kehidupan sosial nya, pergaulan, gengsi, dll. Kita merasa diri kita berubah menjadi orang lain, berubah menjadi apa yang 'kebanyakan' inginkan, berubah menjadi power ranger. Bukan ya, yang terakhir tadi saya cuma mengada-ada.

Saya berani mengatakan diri saya saat ini adalah seorang hobiis street photography karena genre ini membuat saya menjadi diri saya sendiri. Karya street photography seseorang selalu mencerminkan pribadinya, keluh kesahnya, pandangannya terhadap dunia, dan sebangsanya. Saya tak menampik bahwa genre lain juga 'seperti itu', mencerminkan pandangan fotografernya, tapi street photography saya rasa adalah yang paling pas untuk mewakili itu semua.

Kurniadi Ilham - Padang (2015)
Beberapa waktu yang lalu saya membaca satu buku berjudul Kisah Mata karangan Seno Gumira. Saya baru membaca sebagian kecil saja tapi saya sudah mendapatkan banyak pelajaran. Ada dua kalimat yang saya suka, akan saya kutip disini. Yang pertama adalah "Kalimat fotografer Alfred Stieglitz (1864-1946) menunjuk kepada suatu asumsi: Fotografi dipercaya tanpa syarat sebagai pencerminan kembali realitas". Yang kedua adalah "Dunia dalam pandangan realisme terwakili oleh konsep Karl R. popper tentang Tiga Dunia. Terdapat Dunia I yang merupakan kenyataan fisik dunia ini, Dunia 2 yang merupakan dunia dalam diri manusia, dan Dunia 3 adalah hasil ciptaan manusia, yang tentu saja adalah interaksi antara Dunia 1 dan Dunia 2".

Realisme Popper ini bisa diandalkan sebagai menerima fotografi yang mendeskripsikan dan memberikan eksplanasi tentang dunia, dengan bantuan teori. Artinya, teori bukanlah penjelasan final tentang realitas, tetapi secuil demi secuil mendekati apa yang disebut kebenaran. Jadi dalam konteks Popper, fotografi betapapun adalah obyektif, bisa dipisahkan dari subjek-subjek pendukungnya. Ketika menjadi obyektif maka fotografi menjadi solusi tentatif.

Kurniadi Ilham - Padang (2014)
Kata-kata tentatif seakan menjadi kunci untuk kita mempertanyakan sebuah obyektifitas. Misalnya satu foto yang memiliki 'sense of tragedy' dan disekelilingnya ada banyak orang yang sedang bersuka-ria. Akan banyak pendapat yang muncul tentang foto seperti ini, positif, netral, atau negatif. Well, disinilah peran fotografer, bukan hanya untuk menangkap sebuah realita dan menyajikannya sesuai dengan keadaan aslinya, tapi ia bisa memasukkan ide nya kesana. Apakah untuk membiarkan audience untuk berpikir atau menyajikan ceritanya secara detail?

Saya baru saja mencari definisi egoisme di wikipedia, kira-kira seperti ini. "Egoisme merupakan motivasi untuk mempertahankan dan meningkatkan pandangan yang hanya menguntungkan diri sendiri". Bagi saya sendiri, egoisme adalah menunjukkan pandangan pribadi kita. Menguntungkan diri sendiri atau menguntungkan orang banyak, bagi saya itu tidak ada masalah.

We see what we want, dan itu saya sajikan ke dalam karya. Jika orang melihat karya saya, maka yang sebenarnya ingin saya perlihatkan adalah, ini adalah pandangan saya terhadap dunia, kalau pandanganmu berbeda dengan saya, itu terserah kamu, kamu adalah kamu, saya adalah saya. Gila, saya ngomong udah kayak peran antagonis aja ya. Huahaha sana panggil ibu peri *evil. Maaf saya menceritakannya jadi berasa jahat ya, tapi sebenarnya hal ini baik. Menjadi diri sendiri tentu lebih baik daripada hidup dalam kepura-puraan.

Kurniadi Ilham - Padang Panjang (2014)
Lantas bagaimana dengan etika? Walau kita melihat dengan cara pandang kita, namun kita juga harus memperhatikan situasi sekitar. Misalnya saya sedang berada di sebuah pasar tradisional, dan saya memotret kondisi disana. Ternyata ada yang merasa kurang nyaman, seperti ibu-ibu yang sedang menyusui anaknya. Disini etika kita ditanya, saya memilih untuk pindah lokasi, atau tidak menggunakan kamera sama sekali. Kalau masih memilih tetap disana dengan kondisi seperti itu, dan kamu tidak peka, maka saya boleh bilang kamu adalah orang yang etika nya kurang.

Street photography adalah fotografi yang bercerita tentang situasi di ruang publik, banyak hal terjadi disana. Fotografer yang ingin mengabadikan momen di ruang publik ini boleh memilih untuk merekam sesuai dengan realita nya, bisa juga memperlihatkan pada audience tentang pandangannya, atau ingin merubah kondisi tersebut dalam sebuah foto.

Sampai jumpa di postingan selanjutnya, masih ada part II nya. Jadi bagi yang gak mau ketinggalan, ikuti terus blog saya, add to circle atau subscribe.

Selasa, 05 April 2016

Menelusuri Sejarah Fotografi Jalanan

Tulisan asli oleh Irma Chantily

Direpost dan disadur oleh Kurniadi Ilham & Maklum Foto
=======================================

[Temukan juga tulisan saya di https://maklumfoto.wordpress.com/]

Street photography telah jadi topik hangat beberapa tahun belakangan ini. Semakin banyak fotografer, baik yang profesional maupun yang amatir, memotret jalan-jalan dan orang- orang di sekitar mereka. Ketenaran pendekatan ini tak bisa dipisahkan dari kepopuleran internet dan media sosial, tempat setiap orang berhak memamerkan jurnal visual keseharian mereka dan orang lain punya hak yang sama untuk memuja atau menghujat karya-karya tersebut.
Kemunculan dan ketenaran beberapa situs yang didedikasikan untuk street photography, seperti Invisible Photographer Asia dan Sidewalker Asia, juga turut membantu penyebarluasan gaya ini di masyarakat. Para street photographer—bolehlah kita sebut mereka fotografer jalanan—jadi punya ruang khusus untuk bersanding dengan rekan- rekannya dari seluruh penjuru dunia. Ruang yang bukan untuk snapshot, bukan pula dokumenter, jurnalistik atau fotografi seni.

Layaknya sesuatu yang “baru”—dan seakan tak dikenal sebelumnya—banyak kalangan yang kemudian sibuk mencoba merumuskan apa dan bagaimana sebetulnya fotografi jalanan—dan dengan demikian, apa yang tidak termasuk ke dalamnya. Coba saja pergunakan telusuri arti kata kunci street photography di jagat maya. Banyak sekali arti akan ditawarkan, semuanya menyodorkan istilah dan aturan yang “seharusnya” diterapkan ketika hendak mempraktikkan fotografi jalanan. Padahal, ibarat lagu lama aransemen baru, gaya dan pendekatan ini bukanlah sesuatu yang baru muncul ketika teknologi kamera dan internet sudah semaju sekarang.
Perkembangan praktik dan pendekatan fotografi jalanan—layaknya praktik dan pendekatan fotografi yang lain, tak bisa dipisahkan dari sejarah dan kemajuan teknologi kamera itu sendiri. Kedua hal ini akan saling mempengaruhi, mendukung dan bereaksi— saling berkelindan hingga ke bentuk fotografi jalanan yang lazim kita temui dewasa ini.
Tulisan ini hendak mencoba menjabarkan peranan rantai sejarah dan perdebatan yang mengiringi tumbuh-kembang fotografi jalanan ke dalam dua bagian yang terpisah. Bagian yang pertama akan melihat para fotografer yang dianggap telah menghasilkan karya fotografi jalanan sejak abad ke-19. Bagian selanjutnya bermaksud menguraikan beberapa pokok perdebatan yang sering kali terbit ketika membicarakan praktik fotografi jalanan.

Fotografer Keliling Monas  dan  Tradisi Awal Street Photography

Pernah bertemu orang-orang yang berkeliling dan menawarkan jasa fotografi kepada anda di Monas? Mereka sudah beroperasi di Monas sejak 1970-an. Jika mau memiliki tanda bukti atas kunjungan anda ke sini, anda bisa memanfaatkan jasa mereka. Berposelah di monumen kebanggaan Soekarno itu; berlagak seperti anda sedang menyentuh, memeluk, atau mendudukinya. Sang fotografer akan memotret anda—memanfaatkan perspektif, kedalaman, serta cara pandang lensa. Hasil potret bisa langsung dicetak untuk anda bawa pulang. Sekitar lima tahun yang lalu, anda tinggal merogoh kocek sebesar sekitar Rp15.000 dan kenang-kenangan itu akan menjadi milik anda selamanya.
Yang dilakukan oleh para fotografer Monas itulah kira-kira yang disebut Colin Westerbeck dalam buku Bystander: A History of Street Photography (1994) sebagai awal mula pendekatan ini. Fotografer jalanan adalah orang-orang yang berada di ruang publik dengan kamera dan menawarkan jasa fotografi kepada orang yang lalu-lalang . Namun menolehlah lagi ke belakang, dan kita akan menemukan sesungguhnya gaya fotografi jalanan sudah dipraktikkan jauh sebelum kita banyak berdebat tentang definisi dan aturan yang mengikatnya di abad ke-21 ini. Jauh ke belakang, hingga kita bisa menemukan acuan visual fotografi jalanan dari karya-karya lukisan.
Kelahiran fotografi di Eropa bersamaan dengan Revolusi Industri, ketika metode kerja manusia perlahan mulai terotomatisasi dan kemajuan teknologi serta beragam penemuan baru di bidang optikal dan kimiawi semakin memudahkan hidup manusia. Masyarakat abad ke-19 menganggap mereka tengah berada di titik puncak kemajuan teknologi. Demikianlah kota-kota baru bermunculan bersamaan dengan globalisasi dan urbanisasi. Lanskap berubah. Masyarakat yang anonim tinggal bersama, dibatasi dinding, dan berpapasan hanya di ruang publik.
Realitas yang baru itulah yang dengan semangat diabadikan menggunakan fotografi. Kemampuan medium ini untuk merekam momen dengan cepat telah melampaui apa yang pernah dibayangkan manusia—yang selama ini tergantung pada para pelukis dan karya mereka untuk merepresentasikan sekeliling kita lewat citraan visual. Dengan cepat fotografi—dan fotografer—memanfaatkan momentum itu; mereka mendokumentasikan apa saja yang ada di sekeliling mereka: orang, bangunan, lanskap, interaksi manusia dengan sesama manusia serta interaksi manusia dengan lingkungannya.
Hubungan fotografer dengan kota memang selalu erat. Hampir semua jagoan fotografi kaliber dunia yang kita kenal pernah memotret kota tempat mereka tinggal dan jalan-jalan yang mereka susuri. Tak heran pula jika hasil penelusuran atas sejarah fotografi akan memperlihatkan bahwa foto-foto yang pertama diambil adalah yang memperlihatkan jalanan, atau yang diambil di jalanan. Ingatlah daguerreotype buatan Louis Daguerre (1787-1851) Boulevard du Temple (1938). Karya itu adalah salah satu gambar pertama yang memperlihatkan jalanan, sekaligus mengabadikan orang di dalam sebidang foto.

Louis Daguerre, Boulevard du Temple (1938)
Berangkat dari asal kata dan sejarah yang meliputi gaya ini, bisa kita tarik kesimpulan bahwa fotografi jalanan adalah foto-foto yang dihasilkan di jalanan dan yang merekam kehidupan orang lalu-lalang. Tentu saja definisi sangat sederhana ini kemudian mengalami perkembangan dan perdebatan karena adanya perubahan realitas sosial dan perkembangan teknologi kamera itu sendiri. Kini fotografi jalanan tidak lagi melulu berarti diambil di jalanan, ia bisa jadi diambil di ruang publik mana pun—pantai, taman, kafe, mal atau tempat terbuka mana pun lainnya yang mengizinkan orang-orang yang tak saling kenal mengaksesnya secara bersamaan.
Dalam bentuknya yang paling dasar, fotografi jalanan misalnya telah dilakukan oleh Eugene Atget (1857-1927) pada awal abad ke-20. Karya-karya Atget atas pendokumentasian kota Paris tua yang ekstensif bisa kita kenal berkat fotografer jalanan lainnya, Berenice Abbott (1898-1991). Abbott kemudian melakukan hal yang sama di kota tempat ia berasal, New York. Koleksi Atget di Paris dan Abbott di New York memperlihatkan kepada kita pengamatan atas detail desain interior yang kaya dan lanskap kota beserta bangunannya. Karya kedua fotografer ini tidak hanya memperlihatkan bangunan dan bentuk arsitektur, tapi juga konteks tempat bangunan itu berada. Mereka memotret jalanan, ruang dan orang- orang yang menempatinya. Melalui foto-foto Atget jugalah, kelompok surrealis seakan menemukan visi mereka tentang kota idaman; labirin urban tentang memori dan harapan.
Lain halnya dengan Robert Doisneau (1912-1994). Fotografer ini dikenal karena kefasihannya mendokumentasikan kehidupan di seputar kafe-kafe di Paris. Sebagai fotografer lepas pada 1950-an, Doisneau berhasil merekam momen dan warna kehidupan kota tersebut, sering kali dengan jepretan yang jenaka dan penuh empati. Foto-fotonya mengalun ringan, seringan langkahnya ketika menyusuri dan mengamati pasangan muda berciuman, pelukis melukis di jembatan, atau perempuan muda yang menikmati segelas anggur merah.

Robert Doisneau, Un Regard Oblique (1948)
Mungkin di antara sekian banyak fotografer jalanan yang telah menorehkan perannya dalam perkembangan gaya ini, Henri Cartier-Bresson adalah nama yang paling dikenal. Dengan “decisive moment”-nya, Bresson dikenal luas atas karya-karyanya yang dinamis, puitis dan penuh pertimbangan komposisi yang seimbang dan sering kali serupa mimpi. Lebih ingin dianggap sebagai fotografer surrealis daripada label lainnya, Bresson kerap memanfaatkan perspektif dan unsur dua dimensi dari foto untuk memberikan cara pandang yang khas tentang apa-apa yang terjadi di jalanan.
Jika kita lihat karyanya yang dibuat di Naples (1960), kita akan melihat bagaimana dengan cermat Bresson membuat subyeknya seakan berjalan menuruni pegangan tangga. Atau bagaimana dengan mengamati fotonya yang mungkin paling sering dijadikan rujukan, kita bisa melihat dua sosok yang melompat, menghasilkan komposisi dan keseimbangan yang sempurna. Foto-foto Bresson yang lain juga kerap memanfaatkan kekuatan bayangan dan komposisi terang-gelap—menjadikan subyek yang ia foto kurang penting di hadapan bayangan dan menghadirkan bentuk geometri yang kuat.

Henri Cartier-Bresson – France (1932)
Perkembangan teknologi kamera juga telah mengizinkan para fotografer menjelajahi cara pengambilan gambar yang berbeda dan merekam kota mereka dengan sapuan pandang yang tak pernah dilakukan sebelumnya. Kredo “Decisive moment”-nya Bresson mengandaikan adanya momen puncak dalam sebuah keadaan, ketika setiap elemen dalam bidang foto akan bergerak dan menempati posisi yang paling sempurna—momen puncak yang diakhiri ketika sang fotografer menekan tombol shutter.
Tanpa kehadiran kamera yang ringan, atau film yang memiliki kepekaan cahaya yang cukup tinggi, momen yang berkelebat bisa jadi terlalu sulit untuk diabadikan. Kemajuan teknologi kamera juga menjelmakan aplikasi teknis memotret yang dilakukan oleh Alexander Rodchenko (1891-1956), menghadirkan sudut pandang yang tak pernah terlihat sebelumnya. Rodchenko dikenal atas karya-karya foto yang berani dan tidak biasa. Ia memanfaatkan latar belakangnya sebagai pematung, pelukis dan desainer grafis, untuk menjelajahi beragam perspektif dan bentuk geometri untuk menghasilkan karya yang kuat secara visual dan berkesan modern dengan perspektif yang ekstrem.
Perkembangan teknologi kamera juga telah mengizinkan para fotografer menjelajahi cara pengambilan gambar yang berbeda dan merekam kota mereka dengan sapuan pandang yang tak pernah dilakukan sebelumnya. Kredo “Decisive moment”-nya Bresson mengandaikan adanya momen puncak dalam sebuah keadaan, ketika setiap elemen dalam bidang foto akan bergerak dan menempati posisi yang paling sempurna—momen puncak yang diakhiri ketika sang fotografer menekan tombol shutter.
Tanpa kehadiran kamera yang ringan, atau film yang memiliki kepekaan cahaya yang cukup tinggi, momen yang berkelebat bisa jadi terlalu sulit untuk diabadikan. Kemajuan teknologi kamera juga menjelmakan aplikasi teknis memotret yang dilakukan oleh Alexander Rodchenko (1891-1956), menghadirkan sudut pandang yang tak pernah terlihat sebelumnya. Rodchenko dikenal atas karya-karya foto yang berani dan tidak biasa. Ia memanfaatkan latar belakangnya sebagai pematung, pelukis dan desainer grafis, untuk menjelajahi beragam perspektif dan bentuk geometri untuk menghasilkan karya yang kuat secara visual dan berkesan modern dengan perspektif yang ekstrem.

Alexander Rodchenko, Street
Melalui sudut pandang yang sama sekali baru, karya-karya Rodchenko mencerminkan semangat revolusi Rusia dan Konstruksivisme yang ketika itu sedang berkembang: menggunakan aspek baru dalam berkesenian untuk mendapatkan hasil yang revolusioner.
Tentu saja, banyak fotografer lainnya yang patut disebut dalam kerangka fotografi jalanan. Dari Amerika dan Eropa kita mengenal karya-karya yang dihasilkan oleh Robert Frank, Diane Arbus, Jacob Riis, Walker Evans. Dari Jepang, Daido Moriyama dan Kohei Yoshiyuki memperlihatkan kepiawaiannya sebagai fotografer yang tak kasat mata di ruang publik dan menelanjangi kehidupan masyarakat Jepang. Semuanya berawal dari praktik para fotografer untuk mendokumentasikan kehidupan sehari-hari yang terjadi di jalanan, di ruang publik—mendokumentasikan sejarah, mengabadikan yang sesaat sebelum kemudian hilang dimakan waktu.
Layaknya genre dan pendekatan fotografi yang lain, definisi fotografi jalanan dan bagaimana gaya ini dipraktikkan oleh para fotografer juga terus berubah seiring dengan perkembangan zaman. Serupa definisi fotografi dokumenter; awalnya hanya berarti mendokumentasikan, lalu akademisi mulai mengimbuhi genre ini dengan pesan sosial atau narasi besar lainnya, dan terus berubah hingga kini fotografi dokumenter bisa bercerita tentang bragam perspektif, baik narasi besar atau pun narasi kecil yang lebih personal.
Tak berbeda dengan fotografi jalanan. Banyak jenis karya dan pendekatan yang bisa dianggap sebagai fotografi jalanan, meski tak semuanya adalah fotografi jalanan. Memotret dengan seketika, snapshot, bisa jadi adalah salah satu bentuk dari fotografi jalanan. Namun tentu tak semua snapshot adalah fotografi jalanan. Jika saja kita sedikit membebaskan diri dari kota-kotak genre fotografi, kita bisa melihat bahwa fotografer yang ingin mengabadikan kota yang tengah berubah dan bagaimana masyarakat sekeliling mereka hidup adalah manifestasi dari fotografi jalanan. Begitu pula dengan para fotografer yang menawarkan jasa fotografi kepada orang di ruang publik. Tak ketinggalan adalah para fotografer yang kuat dalam opini ideologi dan menggunakan fotografi sebagai medium berekspresi.

Perdebatan yang Menghangat

Hal lain yang selayaknya turut dicermati ketika membicarakan soal fotografi adalah konteks konotasi yang dihasilkan dari pembuatan sebuah foto—atau bagaimana cara memotretnya; candid atau tidak, sudut pandang dan fokus, dan lain sebagainya. Selain itu, perdebatan juga biasa melibatkan tempat foto diambil, subyek dan obyek yang “seharusnya” ada, serta aspek teknis lainnya, seperti jenis kamera yang digunakan, penggunaan flash, editing gambar dan lain-lain.
Sudah tentu, perdebatan tentang soal-soal tadi selalu membuat perkembangan medium terkait jadi lebih dinamis. Begitu pula dengan fotografi. Sejak pertama kali muncul, kehadiran fotografi sudah mengundang kontroversi—baik dari kalangan di luar praktisi fotografi, atau pun sesama fotografer yang berbeda “kubu”. Misalnya saja perdebatan tentang apakah sebuah foto itu subyektif atau obyektif. Jika mengikuti dalil John Berger dalam bukunya yang bertajuk Another Way of Telling, maka fotografi sesungguhnya mengutip realitas—bukan menerjemahkannya seperti lukisan. Foto, yang dihasilkan dalam sepersekian detik menggunakan refleksi cahaya atas benda-benda, adalah gambar visual tanpa kode, pengalaman atau pun kesadaran.
Contoh lain adalah perdebatan laten di kalangan fotografer jurnalistik dan dokumenter: jika fotografi adalah penghadir realita, maka sejauh mana hasil karya foto boleh dimanipulasi? Dulu foto dokumenter harus diberi bingkai hitam sebagai tanda bahwa segala sesuatu yang terfoto sesuai asli dan tidak ada yang diubah dengan sengaja. Menggunakan flash juga tidak diizinkan karena dianggap memberikan elemen tambahan pada realitas yang hendak ditangkap.
Soal menggunakan flash ini juga turut menjadi salah satu butir yang didiskusikan dalam ranah fotografi jalanan. Ada kelompok yang menolak penggunaan flash, ada yang mengamini saja. Child with Toy Hand Grenade in Central Park karya Diane Arbus (1923-1971) jelas dibuat menggunakan flash. Cahaya matahari yang jatuh ke arah lensa akan menutupi wajah si anak jika Arbus tidak menggunakan flash. Praktik yang sama juga dilakukan oleh Jacob Riis (1849-1914), fotografer jurnalistik Amerika Serikat pertama. Ia menggunakan flash powder untuk membantu pemotretan di tempat-tempat yang biasa ia datangi: ruangan kumuh dan gelap, bar tak berjendela dengan langit-langit rendah, kamar sempit yang ditempati banyak orang, dan jalan-jalan yang muram tempat berdiamnya kelompok masyarakat miskin di New York.

Diane Arbus, Child with Toy Hand Grenade in Central Park, New York City (1962)
Liz Wells, editor buku Photography: A Critical Introduction, mengatakan bahwa melakukan cropping dan mengubah warna foto dokumenter bisa membuat anda kehilangan kredibilitas sebagai seorang fotografer. Hingga kini perdebatan itu masih berlanjut dan justru sempat menghangat ketika  Photography menawarkan jasa untuk sedikit “memperbaiki” warna foto secara digital. Padahal, menurut Victor Burgin, manipulasi adalah esensi dari fotografi. Para fotografer adalah orang-orang yang memanipulasi aspek fisik dan produksi foto: kamera, film, cahaya, obyek dan manusia. Semua itu dilakukan fotografer untuk mereproduksi citraan dunia sebagai “obyek kontemplasi visual”.
Subyektivitas dalam fotografi dan kesadaran “memanipulasi” tertuang dalam gaya fotografi jalanan modern yang berkembang di Amerika pada 1950-an. Ketika itu, representasi visual yang terbut adalah yang menawarkan bentuk visual yang spontan dan langsung, subyektif, serta mampu memperlihatkan emosi suatu zaman. Bantahan Robert Frank (lahir 1924) atas kredo “decisive moment”-nya Bresson turut berperan dalam perkembangan konsep fotografi jalanan yang baru. Bagi Frank, semua momen adalah puncak dan bernilai, ditandai dengan keputusan seorang fotografer untuk mengabadikan momen tersebut dengan kamerany. Fotografi jalanan dianggap bertujuan mencari momen acak di ruang publik, menemukan ketakterdugaan di tengah komposisi yang tersusun rapi.

Robert Frank, Political Rally (1956)
Menemukan ketakterdugaan dengan komposisi dan jukstaposisi yang kuat di ruang publik bisa menghasilkan foto jalanan yang menarik. Sulit, memang. Tapi justru di situlah letak tantangan para fotografer jalanan dewasa ini. Menyeimbangkan semua elemen tadi, dan menghindari citra yang klise—semua itu untuk menemukan acuan visual termutakhir bagi fotografi jalanan.
Mempelajari sejarah dan menoleh ke belakang bukanlah semata usaha bernostalgia dan menumbuhkan romantisme. Masa lalu bisa mengajarkan kita akan perjalanan panjang praktik fotografi jalanan, bagaimana ia berkelindan dengan medium lain, situasi sosial, politik, serta kemajuan teknologi kamera. Saling mempengaruhi di antara semua aspek tadi pada akhirnya akan menerbitkan referensi visual dan pewacanaan fotografi yang terus menerus terbarui.

==========================================================
Profil Irma Chantily

Irma Chantily lahir di Jakarta, 1985. Ia adalah penikmat fotografi, meski sama sekali bukan fotografer. Ia beberapa kali menulis tentang fotografi di media massa cetak dan online serta terlibat dalam produksi pameran foto atau seni rupa—baik sebagai kepala proyek, kurator, asisten kurator, penulis atau pun editor. Walau belum cukup sering atau pun mahir, Irma juga gemar melibatkan diri pada beberapa proyek penelitian fotografi Indonesia. Bersama dua rekannya, ia membuat sejarahfoto.com, sebuah inisiatif untuk mencoba memetakan sejarah fotografi Indonesia. Pada 2011, Irma bergabung dengan Komunitas Salihara dan satu tahun kemudian ia menjadi manajer arsip dan dokumentasi—sambil terkadang tetap memenuhi panggilan untuk menjadi pengajar lepas di Program Studi Fotografi, Institut Kesenian Jakarta.

==========================================================

Sumber

Gerry Badger, Theory : The Indecisive Moment: Frank, Klein and “Stream-Of-Consciousness” Photography (2004). http://www.americansuburbx.com
Liz Wells, ed., Photography: A Critical Introduction (2004), 100
dan berbagai sumber yang relevan

Minggu, 06 Maret 2016

Kreatifitas Anak Muda Sumatera Barat Edisi Comic Strip Part II

Weekend enaknya ngapain? Ada yang pacaran, ada yang nonton bola, ada yang nonton bola sambil pacaran, ada yang ngumpul sama teman-teman, ada yang latihan kegiatan seni, kegiatan olahraga, ada macem-macem dah.

Malam ini saya terpaksa kembali kerumah karena pada ribut di cafe tempat saya biasa duduk (dan online) soalnya banyak pertandingan bola ya, pada teriak teriak, yaaa yaaa goool, enggakkk jadiii, aahhhh k#$^&#. Ya begitulah, saya bukannya gak suka nonton bola tapi tim kesayangan saya tidak tayang di tv lokal.

Sebenarnya saya mau bikin materi untuk hari kamis besok di Universitas Bung Hatta. Saya diminta untuk menjadi pemateri fotografi dengan tema Fotografi: Masa Lalu dan Masa Kini. Alhamdulillah setelah kegiatan Street Photography Festival Sumatera Barat, saya dapat beberapa tawaran untuk mengisi kegiatan fotografi.

Kali ini saya akan melanjutkan seri "Kreatifitas Anak Muda Sumatera Barat" Edisi Comic Strip Part II. Sebelumnya saya sudah post Part I dengan 4 Comic Strip. Silahkan langsung klik judul Comic Strip untuk langsung menuju halaman sumber.




Si Krambir adalah pendatang baru di dunia comic strip, postingannya baru 18 post di instagram saat saya menulis ulasan ini. Namun dilihat dari konten dan gambarnya, terlihat kreator Si Krambir sudah sangat mahir. Cerita Si Krambir sangat anti-mainstream, tidak ngikut dengan apa yang sedang hangat dibicarakan saat ini, namun tetap menjadikan kita sebagai penikmat terhibur.

2. DA_JEK


Di Jakarta ada Gojek, disini ada Da Jek. Da Jek sendiri bukanlah tukang ojek walau di beberapa komiknya sempat muncul tukang ojek, tapi ternyata bukan dia tukang ojeknya. Da Jek cuma jadi penumpang ojek dan gak bayar ojeknya. Yah gak ada hubungan dengan Gojek ya. Ceritanya macam-maca, mulai dari carito saisuak (cerita lama) atau pun tentang hal-hal yang ada di jaman sekarang ini.

3. DA BAR (CILOTEH BARUAK)


Ciloteh Baruak menceritakan kehidupan manusia sehari-hari dari sudut pandang seekor beruk. Komik ini juga hasil karya Iggoy El Fitra, kreator Si Bujang. Da Bar sebelumnya sempat tampil di beberapa komik Si Bujang sampai akhirnya punya akun dan komik sendiri. Mirip sama beberapa superhero DC Comic/ Marvel ya, awalnya muncul di film superhero lain sampai akhirnya punya film sendiri.

Sekian serial Comic Strip Part II, mudah-mudahan menjadi informasi dan inspirasi yang berguna. Saya nulis cuma pas sempat saja, jadi buat kamu yang gak mau ketinggalan tulisan-tulisan selanjutnya silahkan subscibe/ follow/ bookmark/ add to circle.