Tampilkan postingan dengan label Review. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Review. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 30 September 2017

Trip Kuliner di Padang

Hai, selamat siang
Apa kabar semua? Semoga selalu sehat ya.

Btw, udah lama sekali rasanya gak nulis di blog ini. Mohon maaf kepada pembaca semua yang lebih sering melihat postingan video yang aku share dari youtube.

Beberapa tahun lalu aku sempat membuat sebuah usaha kecil-kecilan, sebagai middle-man sih, namanya KIRA Food & Snack. Usaha ini sempat terhenti karena kesulitan dalam me-manage urusan-urusannya, salut dengan usaha yang juga berposisi sebagai middle-man tapi tetap jalan sampai sekarang. Eh ini aku bahas middle-man pada tau gak kamsud nya? Dalam dunia usaha, middle-man bisa diumpamakan sebagai distributor, penengah, dll. Aku pernah nonton film bertema bisnis, yah banyak kekerasannya juga sih, yang nonton Layer Cake pasti tau. Disana sang bisnisman tua berkata pada pemeran utama (Daniel Craig) kalau bisnisman yang baik adalah middle-man yang bagus. Usaha-usaha digital yang kita lihat saat ini rata-rata mengambil peran sebagai middle-man seperti Tokopedia, Bukalapak, Olx, Sribulancer, Youtube, dll.

Ok, cukup sudah soal middle-man nya ya, kita beralih ke tema yang ingin dibahas. Kenapa aku ingin bahas soal kuliner (lagi)? Karena ternyata tulisan lama ku Kuliner Murah Meriah Di Padang berada di puncak pencarian di blog ini, menjadi postingan paling trend. Terima kasih untuk semua pembaca yang sudah membaca. Namun postingan tersebut tayang dari tahun 2013 kemarin, dan Kota Padang sendiri selalu berubah-ubah dari waktu ke waktu. Jadi aku harus melakukan pembaharuan supaya informasi nya tidak kadaluarsa.

Aku berusaha menghidupkan kembali KIRA Food & Snack, masih sebagai middle-man tapi tidak menjual makanan lagi, melainkan membuat review makanan dan snack di Sumatera Barat yang paling up to date, ya 2017 ini. Tidak lagi berbentuk tulisan saja, namun ada video nya. Jadi teman-teman semua bisa langsung merasakan keseruan di tempat tersebut. Video ini diberi nama KIRA Culinary Trip dan akan dipandu langsung oleh saya yang selalu berada di balik layar blog ini, hehe. Tentu gak akan selalu sendiri, di beberapa video aku akan ditemani beberapa orang seperti wanita tercinta, Ika. Dan mungkin juga teman-teman lain, bahkan mungkin kamu yang sekarang sedang membaca tulisan ini, mana tau kalian punya rekomendasi tempat makan yang enak di Padang dan sekitarnya dan kita akan syuting bareng, hihi.

So, udah penasaran ya? Silahkan langsung cek video dibawah ya!!!


Langsung ke halaman youtube nya juga bisa, jangan lupa Support nya. Dengan memberikan komentar dan subscribe artinya kalian udah bantu aku untuk terus berbagi informasi. Cukup login dengan akun google mu, kemudian klik Subscribe, gratis kok, gak bayar.

Itu saja informasi hari ini, semoga bermanfaat dan da daaaahhh.

Kamis, 30 Maret 2017

LAPTOP MONSTER TAPI BYUTIPUL

Hai hai, rasanya udah lama gak bikin review produk. Kira-kira udah 2756 trilliun tahun. Dan, hari ini aku mau review produk dari Asus untuk yang ketiga kalinya. Sebelumnya ada ASUS Padfone (dapat sertifikat dari ASUS euy) dan satu lagi ASUS ROG G752. Hari ini apa?

Tak perlu berlama-lama lagi, mari kita kupas tuntas ASUS ROG GX800. Laptop yang satu ini punya fitur yang gak lazim untuk ukurannya. Karena punya teknologi canggih plus bikin puyeng. Prosesor nya aja Intel Core i7-7820HK, bisa di overclock lagi. Intel Core i7 7820HK ini memiliki Teknologi Quad-core (4 Cores) yang memiliki Kecepatan Core hingga 4,6 GHz. Chipset ini juga dibangun dengan Arsitektur Kaby-Lake yang diluncurkan Pada Januari 2017 silam. Trus ada pendingin cairnya juga, jadi silahkan disiksa ini laptop pake game-game berat. Yang jadi fokus selanjutnya adalah masalah harga pak, mencapai 95 juta rupiah, fufufu. Karena fitur dan harga nya tadi, banyak yang bilang laptop ini laptop nya Sultan atau laptop Dewa. Aku sih curiga, Raja Salman ke Indonesia bukan cuma buat liburan dan investasi, tapi mau beli laptop ini (Maap ya Raja). Worth it gak dengan harga segitu? Nah, maka nya dikupas dulu satu-satu, bapak sabar dulu. Hup hup hup, lompataaaan.


WATERCOOLING TERPISAH

Teknologi air pendingin A.K.A watercooling ini sebenarnya udah ada dari tahun 2003. Teknologi watercooling GX800 sebenarnya masih sama dengan GX700. Pendingin berasal dari cairan di tangki, kemudian dialirkan lewat tabung selang yang didorong pompa ke dalam perangkat hardware nya untuk menurunkan suhu sistem yang bekerja. Prinsip kerja nya sama, tapi beda nya dimana?

ASUS merubah desain pendingin nya supaya aliran pendingin bisa mengalir sekaligus ke CPU dan dua GPU-nya untuk meredam panas. Nah, sistem watercooling terpisah ini bisa memperkuat performa GX800 saat kamu nge-game dengan spesifikasi paling berat pun kayak RE7. Mirip dengan sistem pendingin mobil.

Itu yang nama nya inovasi. Cukup dengan merubah desainnya aja, performa nya jadi meningkat pak. Kalian yang baca ini, jangan lupa, kunci nya INOVASI.

SPEK AJIGILE AJIKONDE

GX800 menggunakan teknologi 2 way SLI GTX1080 graphic card. Kartu grafisnya ini bisa di-overclock hingga 1961 MHz. GX800 memiliki RAM sebesar 64 GB, dengan 3 buah SSD berukuran 512 GB berfitur Non Volatile Memory Express (NVMe). Kartu VGA/ grafisnya juga bukan sembarang produk, 2 kartu Nvidia GeForce GTX 1080 8GB GDDR5. Hiii, ngeri gak tu pak?

Layar 18.4 inci beresolusi 4K dilengkapi G-Sync. Jadi, kalau bapak-bapak mau main game FPS, siap-siap aja merasakan pirtual realiti tingkat dasar. Minimal pusing pak, tapi lama-lama ntar juga biasa, karena sangat realistis dan byutipul. Untuk menambah performa dari luar laptop, ada lagi dua buah adapter berukuran 330W.

JAM HABIS ALIAS OVERCLOCK

Arti sebenarnya bukan jam habis sih, karena overclock ini istilah mesin. Nah, buat bapak-bapak yang gak tau apa itu overclock. Overclock atau kegiatannya overclocking sebenarnya hanya sebuah perintah atau modifikasi sebuah mesin supaya bisa bekerja maksimal. Biasanya yang di-overclock adalah CPU, GPU atau komponen. Ibaratnya kalo bapak nonton Dragon Ball, Goku udah berubah fusion jadi Super Saiya 3.

GX800 sanggup di-overclock dengan aman hingga 4.6 GHz. Bukan cuma prosesor nya aja yang bisa di-overclock, graphic card nya juga bisa di-overclock hingga 1961MHz (diatas juga udah dikasih tau). Video RAM (VRAM) dan DRAM GX800 juga bisa ditingkatkan dengan mudah hingga mencapai 5.2 GHz dan 2800MHz. Overclocking atau sering di sebut OC, punya image yang rumit. Di GX800, overclock bisa dilakukan hanya dengan sekali klik via ROG Gaming Center.

Karena overclocking bisa meningkatkan tingkat clock speed dan berpengaruh ke performa laptop. Makanya frame rate per second (FPS) game bisa naik dan mempercepat waktu rendering 3D/ video editing. Gak akan patah-patah atau nge-lag. Buat bapak-bapak youtuber gaming, nah ini nih ... *lirik-lirikan

DESAIN

Sebagai seorang seniman, aku akan kasih penilaian sangat-sangat jujur dan sangat-sangat kompeten disini. Ehm ehm, bagus pak, byutipul, beneran. Haha pokok nya desain GX800 futuristik, kayak pendahulu nya, pake desain Tukang Setrika Baju alias Iron Man. Tapi, karena fitur-fitunya tadi, berat ASUS ROG GX800 ini mencapai 5.7 kilogram. Itu baru laptop nya aja pak, belum watercoolingnya. Bobot dockwatercooling nya mencapai 4.7 kilogram. Jadi sehabis nge-game, mending bapak-bapak olahraga angkat beban, pake ASUS ROG GX800. Enak toh?

Fitur selanjutnya adalah ASUS GameFirst III yang akan mengoptimalkan koneksi internet untuk kebutuhan gaming dibandingkan dengan kebutuhan lainnya. Jadi kalo bapak lagi download pun, yang akan diutamakan tetap game online nya. Itu namanya prioritas, dan yang menentukan adalah AI.

Ada juga anti-ghosting, kayak pendahulu nya juga. Jadi bapak-bapak kalau sempat menekan beberapa tombol bersamaan, mungkin akibat tergesa-gesa atau jari nya emang gede, fitur ini akan memprediksi mana yang paling relevan. Jadi gak masalah kalau bapak lagi main game, panik pas ada lawan dan kepencet banyak tombol. Kecuali kalo nyokap atau istri udah marah karena kelupaan makan, mending ALT+F4.

Anti-ghosting juga didukung keyboard mekanis khusus bernama MechTAG atau Mechanical Tactile Advanced Gaming. MechTAG punya ukuran yang tipis dengan bobot ringan, dengan teknologi ini bapak bisa mudah menekan tombol keyboard nya. Karena sudah dirancang responsif oleh ASUS.



Backlit Keyboardnya juga sudah RGB dan bisa di sesuaikan baik warna maupun mode pencahayaannya via aplikasi Asus ROG Aura. Dari sisi handling, Asus ROG GX800 punya dimensi ketebalan yang jauh lebih tipis dari brand lain yang menawarkan produk 18.4-inch.. Akan semakin realistis dan nyaman dipake. Gila ajib bener.

PIRTUAL REALITI ALIAS VR

Udah lah, gak usah dijelasin lah ya soal VR, pasti udah pada tau. Kalo gak tau, mending jangan baca review ini, ntar pusing sendiri.

Tapi buat aktifin pirtual realiti di ASUS ROG GX800, bapak-bapak harus menyambungkan layar dengan dua monitor 4K menggunakan Display Port 1.3 atau langsung ke satu layar beresolusi 8K. Tapi inget, main game horror jangan sampe terkencing-kencing. Malu ama tetangga pak.

AMBASSADOR-NYA CHANDRA "INSTAGRAM VERIFIED" LIOW

Yoooo, ASUS ROG gue udah siap yoooo. Eee sorry, itu Kemal.


Chandra Liow bukan nama baru buat ASUS. Dia udah pake ASUS ROG udah sejak dulu, bikin tugas kuliahnya, edit video dan main game. Akhirnya, berbuah manis juga. Sebelumnya Chandra juga udah jadi ambassador untuk ASUS ROG . Chandra Liow sendiri menjadi endorser keempat Asus. Yang lain nya kalo gak salah cewek-cewek gamers (gemes) deh, haha googling aja yah.

DIRIPIUW ALVA JONATHAN

Siapa sih Alva Jonathan? Dia adalah Juara Kompetisi Overclock Dunia. Nah, dari pencapaiannya, udah pada tau ya perannya dia di hari peluncuran ASUS ROG GX800?


Ya nge-review dan ngasih demo lah, terus apa sih kata sang juara?
Dikutip dari beberapa media,

"Dengan RAM sebesar ini, pengguna bisa membuka browser hingga ratusan tab tanpa harus takut sistemnya bentrok". Pada sesi demo Alva “Lucky_n00b” Jonathan memperlihatkan jika kemampuan gaming ASUS ROG GX800 masih dapat ditingkatkan secara signifikan dengan meng-overclock prosesor bahkan saat game dijalankan di resolusi 4K/Ultra HD. Alva “Lucky_n00b” Jonathan juga memperlihatkan jika ASUS ROG GX800 saat ini bertengger di posisi pertama pada kompetisi online yang dilakukan HWBOT untuk kategori notebook/laptop. Proses overclocking pada ASUS ROG GX800 pun dapat dilakukan dengan lebih mudah bahkan untuk pemula dengan menggunakan aplikasi bawaan Gaming Center.
BENCHMARK ASUS ROG GX800

Buat yang belum tahu, arti Benchmark adalah teknik pengetesan dengan menggunakan suatu nilai standar. Suatu program atau pekerjaan yang melakukan perbandingan kemampuan dari berbagai kerja dari beberapa peralatan dengan tujuan untuk meningkatkan kualitas pada produk yang baru. Hadeuh ribet, pokoknya ngetes produk baru lah gitu.

Sebenarnya ada tiga buah mode di ASUS GX800; extreme, optimized dan standard. Secara otomatis ketika mode nya ditingkatkan, dari standard menuju optimized dan ekstrim, kemampuannya akan langsung meningkat. Daripada menunggu lama, mending kita langsung aja ke mode ekstrim. Bener-bener ekstrim apa kagak ni pak.


What the ..., udah lah nyerah, bener-bener ekstrim ini. Fix, gak mau ngetes lagi, udah cukup.

Endingnya nih ya, target market. Dari spek, harga dan beberapa berita di media. Kayaknya ASUS ROG GX800 ditujukan untuk Overclocker, Gamer Profesional dan Youtuber Gaming. Eits, tapi jangan salah arti. Gamer profesional bukan berarti gamer level profesional, tapi orang-orang yang memang berprofesi sebagai gamer. Sebagai tester kah, sebagai youtuber kah, sebagai reviewer kah, macam-macam. Tidak menutup kemungkinan untuk bapak-bapak sekalian yang bekerja di industri kreatif, contohnya untuk editing video dan pembuatan animasi.

Oke teman-teman, bapak-bapak, ibu-ibu semuanya yang ada disini. Itulah dia ripiuw laptop ASUS ROG GX800 dari Mr. Tamvan dan Rajin Menavung. Hope you enjoy it, dan akhirnya memang terbukti, 95 juta rupiah adalah harga yang pantas untuk monster byutipul ini. Spesifikasi dalam bentuk tabel bisa bapak-bapak lihat dibawah, biar lebih terstruktur.

Main Spec.
ROG GX800 (G-SYNC)
CPU
Intel® Core™ i7-7820HK processor overclock up to 4,2GHz
Operating System
Windows 10 Home
Memory
64GB DDR4 up to 2800MHz
Storage
M.2 PCIEX4  NVMe 512G*3 RAID0
Display
18.4” Anti Glare UHD IPS LED backlight (3840X2160) with G-SYNC
Graphics
NVIDIA® GeForce® GTX 1080 SLI 16GB GDDR5 VRAM
Input/Output
1 x Microphone-in/Headphone-out jack, 1 x VGA port/Mini D-sub 15-pin for external monitor, 3 x USB 3.0 port(s), 2 x USB 3.1 port(s), 1 x RJ45 LAN Jack for LAN insert, 1 x HDMI, 1x Thunderbolt
Camera
Built-in HD camera and array mic
Connectivity
Integrated 802.11ac, BT 4.0 support
Audio
Built-in Speakers and Analog Microphone, Built-in Azalia compliant audio chip, SonicMaster. Built-in subwoofer, 4 speakers. ESS Sabre Headphone DAC to enhance audio performance.
Dimension

Battery

MSRP

Warranty
2 years full global warranty

Semoga nanti aku di endorse ASUS (ngimpi). Hello ASUS, aku Kurniadi Ilham (@choukyin), penulis dan fotografer, nominasi street photography award dunia lho, haha. Malah tambah ngawur, padahal gak menang, cuma sampai nominasi.

See ya in the next article. KUDTU...

Sabtu, 05 November 2016

Kenapa Harus ROG?

Akhirnya di endorse ASUS ROG, ah itu bukan postinganku, itu videonya si Chandra. Well, selama tiga tahun terakhir aku memang ditemani netbook kecil bernama ASUS Eee PC. Aku pertama kali ‘kena’ sama ASUS adalah disaat launching ASUS Fonepad, aku ikut challenge ASUS untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan seputar produknya. Dan yaayy, aku berhasil menjawab sebagian besar pertanyaan dan mendapatkan sertifikat dari ASUS. Bangganya setengah mati, dan sertifikat online itu langsung kupajang di laman facebook ku. Eh, tadi kita bahas apa ya?

ASUS Eee PC ini memang lebih mudah untuk dibawa, cukup dengan tas kecil. Bisa muat netbook, kamera dan buku catatan kecil. Tapi keperluanku cukup banyak, bukan cuma menulis. Aku cukup susah ketika proses editing foto dan video, karena ini netbook gak kuat mameeen. Palingan Adobe Photoshop aku pake yang CS4, Adobe Lightroom pake yang CS2, Adobe Illustrator juga CS2. Disaat semua sudah mengutak-atik Adobe CC, aku masih berkutat dengan masa lalu. Belum lagi editing audio dengan Adobe Auditon, untungnya yang ini lumayan tinggi, CS5. Yang paling kurisaukan adalah processing video dengan Adobe Premier dan Adobe After Effect, ah dia (ASUS Eee PC) tak bisa berbuat banyak.  Kucoba dengan software yang lebih ringan seperti Filmora dan Camtasia. Lumayan, bisa digunakan, walau sedikit lamban.

Aku berpikiran seperti ini, setiap ada kelebihan, pasti lah juga ada kekurangan. Kelebihannya adalah netbook ku ini kecil, mudah dibawa kemana-mana, tidak mencolok. Kekurangannya ya hanya bisa dipakai untuk kegiatan normal saja, tidak untuk yang berat-berat seperti editing foto, audio dan video. Perlu laptop bertipe monster untuk melakukan hal-hal berat tersebut.

Setelah itu aku coba search beberapa laptop bertipe monster. Aku harus menemukan kata kunci yang pas, kucoba “laptop game terbaik”. Booom, ada beberapa pilihan, dan kemudian aku menemukan ASUS ROG. Aku masih belum ngeh dengan ASUS ROG, kupikir ROG hanyalah penamaan standar seperti punya ku, Eee PC. Ternyata setelah kutonton beberapa video, kubaca beberapa artikel dan berita, aku sadar ternyata aku salah. Mungkin jika kalian ingin aku membuat Vlog dari tulisan ini, aku akan menamakannya Video Go Blog. Ya, alasan pertama karena berasal dari tulisan blog. Alasan kedua mungkin lebih masuk akal, karena merasa goblog, gak tau apa itu ROG.


ROG atau Republic of Gamers, wow namanya aja udah keren bos, apalagi spek nya. Tapi kok desainnya kayak desain kostum Iron Man ya? Mungkin ini laptopnya Iron man kali ya. Tapi ini laptop perlu banget buat kalian yang emang hobi main game, apalagi game dengan grafis yang kaya. Dan kalau kalian pengen itu game bisa direkam, perlu recording screen juga kan. Nah, buat jalanin itu semua secara bersamaan tentunya gak akan jadi masalah. Laptop ASUS ROG G752 sudah dibekali spesifikasi hardware yang tinggi, mulai kartu grafis atau VGA dari NVidia “Nvidia Geoforce GTX980M” dengan VRAM DDR5 kapasitas 8GB. Jadi wajar-wajar aja gak ada kendala, dan gambar yang dihasilkan terlihat sangat nyata. Gila, monster banget gak tuh.

Mengikuti seri ROG yang lain, G752 juga menggunakan teknologi G-Sync yang dapat menyinkronkan antara kecepatan render GPU dengan layar. Teknologi ini dapat menghilangkan tampilan gambar yang robek atau patah ketika tengah bermain game. Teknologi lain bernama TurboGear yang dimiliki ASUS ROG G752 adalah teknologi yang memungkinkan pengguna dapat melakukan overclock pada kemampuan kerja GPU yang dimiliki, sehingga kemampuan Laptop dalam memainkan grafis yang berat jadi lebih maksimal. Dari sini terlihat bahwa Laptop Gaming ASUS ROG G752 terbaru memang sangat mengandalkan sisi kemampuan video grafik yang dimilikinya.

ASUS ROG G752 ada dua tipe. Beda antara keduanya cuma dari sisi kapasitas penyimpanan memori internal dan grafis. Buat kalian yang udah gak sabar, nih kukasih tau keunggulan lain dari ASUS ROG G752.

ANTI PANAS

Banyak yang tanya, bener gak ini? Masa iya ada laptop yang gak panas. Secara logika, komponen elektronik yang sedang aktif (dalam keadaan hidup) pasti panas. Kulkas aja yang katanya dingin, mesinnya panas juga kok, coba aja pegang bagian belakangnya (sebaiknya jangan). Tapi, ada sistem pendingin yang bikin suhu panas tadi jadi adem, dan prosesnya cepat. Jadi gak perlu nunggu sejam dulu baru dingin. Selama laptopnya nyala, sistem pendinginnya tetap akan nyala.


ASUS ROG G752 menggunakan teknologi Dual Cooper, dua kipas tembaga yang dipasang di GPU dan CPU. Sehingga, suhu akan tetap terjaga meskipun ini laptop udah overclock.  ASUS ROG G752 juga menggunakan tiga pipa pengalir panas dan teknologi 3D Vapor Pipe yang akan langsung menetralisir suhu dengan cairan di ruangan uap.

Laptop ini memang pas banget sama kebutuhanku sebagai audio editor dan fotografer. Karena software yang kubutukan, memang luar biasa berat. Saat ini aku memang lebih banyak menulis di blog, tapi dengan adanya ASUS ROG G752, sudah pasti kamera yang biasa nya kupakai untuk motret, juga kugunakan untuk rekam video. Ada yang tidak bisa dijelaskan lewat tulisan, dan audio visual membuatnya lebih bagus.

VIRTUAL REALITY

Kartu grafis NVIDIA® GeForce® GTX™ 1070 membuat ASUS ROG G752 bisa VR. Btw, buat kalian yang belum tau VR. Virtual reality (VR) atau realitas maya adalah teknologi yang membuat pengguna dapat berinteraksi dengan suatu lingkungan yang disimulasikan oleh komputer (computer-simulated environment), suatu lingkungan sebenarnya yang ditiru atau benar-benar suatu lingkungan yang hanya ada dalam imaginasi. Lingkungan realitas maya terkini umumnya menyajikan pengalaman visual, yang ditampilkan pada sebuah layar komputer atau melalui sebuah penampil stereokopik, tetapi beberapa simulasi mengikutsertakan tambahan informasi hasil pengindraan, seperti suara melalui speaker atau headphone. Setidaknya itu menurut Wikipedia Bahasa Indonesia. Bahahaha, paragraf macam apa ini?

KEYBOARD GAMING KHUSUS GAMERS GARIS KERAS

Bagi seorang gamer komputer, pastinya keyboard yang bagus akan sangat penting dan dibutuhkan untuk mendukung performa mereka, sekaligus buat keren-kerenan (jangan dicoba untuk menggoda cewek). Makanya, ASUS ROG G752 juga dibekali keyboard canggih laptop gaming yang punya fitur Anti-Ghosting serta beberapa tombol makro untuk mendukung kenyamanan kamu saat bermain game. Btw, tau Anti-Ghostinggak? Bukan hantu ya. Jadi Ghosting ini sebenarnya problem jika ada lebih dari satu tombol yang ditekan. Nah, Anti-Ghosting akan membantu kamu sebagai user agar perintah bisa tetap jalan. Jadi walaupun ada dua tombol yang tertekan waktu kamu mau shot lawan, maka Anti-Ghosting akan mengantisipasinya. Aku gak ngerti algoritma nya gimana, serahkan saja pada ahlinya. Ada juga tombol perekam atau record yang dapat dengan mudah digunakan untuk merekam semua aksi permainan game dari awal hingga akhir.

FITUR GAMING

ASUS ROG G752 juga memiliki komponen pendukung yang sangat memanjakanmu, kayak prosesor Intel Core i7-6700HQ untuk menjalankan berbagai aplikasi game berat. Intel Core i7-6700HQ bakal memberikan performa yang lebih powerful karena sudah memiliki integrated graphic yang lebih baik, clock speedyang lebih cepat, serta hyper threading. Contohnya kayak GTA V, Call of Duty, Sleeping Dogs (Bayu Skak bilangnya GTA Cino), Crysis 3, dll. Selain itu karena layarnya sudah berteknologi Full HD, maka para gamers pastinya lebih betah saat main. Plus ketika main di suasana gelap atau terang, sama aja tetap kelihatan jelas, kan Full HD. Layarnya juga bebas mau ditekuk kayak gimana, karena display nya udah bagus.

Supaya bisa menghasilkan kecepatan kerja yang tinggi dan akses data yang cepat, ASUS ROG G752 juga punya PCIE4 SSD sebagai media penyimpanan dengan tingkat akses data yang sangat cepat jika dibandingkan dengan tempat penyimpanan data yang masih menggunakan harddisk piringan baja. Gak bakal lemot deh, wuuut wuuuuut.

Buat teman-teman gamers, gak cuma gamers sih, karena ini laptop juga dibutuhkan di dunia Fotografi dan Sinematografi, wajib punya ASUS ROG.

HIGH QUALITY AUDIO

Kualitas suara yang dimiliki ASUS ROG G752 sudah sangat-sangat bagus. Karena mereka punya Sonic Studio. Nah, sebagai seseorang yang juga berkecimpung di dunia Audio (Recording, Mixing, Editing, Mastering), aku tau banget kalau audio sangat mempengaruhi user. Coba aja kamu main PES, tapi ambience nya ilang, cuma suara komentator. Pasti berpengaruh ke permainan, kamu jadi gak fokus lah, gak semangat lah, lupa kerjain tugas lah. Oke yang terakhir tidak termasuk.

Satu lagi, ASUS ROG G752 juga punya Sonic Radar, yang ini tujuannya untuk membantu kamu dalam memainkan game nya, namanya juga radar.

THUNDERBOLT


Aku pertama kali mendengar isilah Thunderbolt dari dosenku di tahun 2010. Karena major ku elektronika, maka aku belajar tentang komputer. Thunderbolt ini adalah nama port untuk keperluan transfer.  Saat itu dosenku menjelaskan bahwa teknologi ini jauh lebih cepat dibandingkan USB 3.0, kebayang gak tuh? Intel Thunderbolt 3 ini bisa transfer 40Gb/detik, bit bukan Byte. 1 Byte = 8 bit, jadi hitung sendiri ya. Agar compatible dengan perangkat yang kita miliki, ada port yang umum dipakai, USB 3.1 Tipe C.

Kalian bisa cek spesifikasi lengkap dari ASUS ROG G752 disini.



Tertarik? Dan untuk penutup. Semoga waktu kalian terbuang berguna. Terima kasih.

Selasa, 01 November 2016

KENAPA AKU TAK IKUT MEMILIH (18+)

Manipulasi adalah sebuah proses rekayasa dengan melakukan penambahan, pensembunyian, penghilangan atau pengkaburan terhadap bagian atau keseluruhan sebuah realitas, kenyataan, fakta-fakta ataupun sejarah yang dilakukan berdasarkan sistem perancangan sebuah tata sistem nilai, manipulasi adalah bagian penting dari tindakan penanamkan gagasan, sikap, sistem berpikir, perilaku dan kepercayaan tertentu.

Oke, sebelumnya aku membahas tentang fenomena ‘street settingan’ yang terjadi di dunia fotografi, khususnya Indonesia. Kali ini aku ingin membahas hal lain, yang ingin dikeluarkan dari otakku. Dari judulnya, mungkin kamu akan berasumsi bahwa tulisanku berkaitan dengan politik, pemilihan kepala daerah, dan jabatan. Tapi semua itu salah, karena aku ingin membahas tentang Halal Tourism.

Namaku Kurniadi Ilham, berdomisili di Padang, asli Payakumbuh dan KTP ku Tanah Datar. Yang ingin kujabarkan dibawah ini adalah tentang Halal Tourism (Pariwisata Halal), dimana Sumatera Barat menjadi nominasi di beberapa kategori. Tulisan ini (sekali lagi) kulabeli 18+, bukan karena konten vulgar, tetapi butuh pemikiran yang dewasa dan luas untuk menanggapinya. Aku menulis disini, di blog ini, karena ini adalah rumahku di dunia maya. Aku menyewa rumah dari Google, tepatnya bloggerdotcom, yang menyediakan rumah gratis.

Kenapa aku tak ikut memilih. Memilih apa? Memilih siapa? Jawabannya memilih, atau lebih tepatnya memberikan vote untuk Sumatera Barat di ajang pemilihan Best Halal Tourism di beberapa kategori. Karena ..... Lebih baik aku memulai nya dari awal.

Aku mengetahui Halal Tourism dari dunia maya, awalnya aku tak begitu mengerti Halal Tourism itu apa. Aku mencari tahu dari beberapa situs tentang itu, dan mendapatkan beberapa penjelasan. Kemudian, disalah satu situs, aku menemukan tulisan “Syariah atau Moslem-Friendly?”. Dua hal ini jelas berbeda, walau tak bisa dipisahkan satu sama lain. Pariwisata yang syariah berarti wisata yang menggunakan kaidah-kaidah Islam dalam pelaksanaannya, contohnya Hotel Syariah. Sedangkan Pariwisata yang moslem-friendly adalah wisata yang ramah terhadap umat muslim, contohnya adalah tempat-tempat wisata yang memiliki fasilitas mesjid atau mushalla. Tak lama setelah aku membaca tulisan itu, aku membuka facebook dan menemukan satu postingan tentang polisi pantai di Prancis menghampiri pengunjung yang memakai burkini (pakaian pantai untuk muslimah), kemudian menyuruhnya untuk membuka burkini tersebut, agar sama dengan pengunjung lain yang memakai bikini. Disini aku berkesimpulan bahwa kejadian tersebut tidak ‘moslem-friendly’.

Kembali ke Halal Tourism. Aku mendapatkan pesan dari salah seorang teman, ada sosialisasi Halal Tourism di Hotel Ibis Padang, mengundang blogger, media massa dan content-creator. Kemudian aku mendaftarkan diri, agar bisa mengikuti acara tersebut. Aku masih penasaran dengan Halal Tourism, pastinya disana ada jawaban yang jelas. Ternyata, acara tersebut diundur selama seminggu dan lokasi nya dipindahkan ke Hotel Inna Muara. Aku sudah mendapatkan konfirmasi dari penyelenggara kegiatan. Mereka juga mengirimkan beberapa file ke emailku, isinya adalah susunan acara dan juga nama-nama narasumber yang akan mengisi acara tersebut. Tema kegiatannya adalah “Optimalisasi Peningkatan Wisata Halal Melalui Media Sosial”, diselenggarakan oleh Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran Pariwisata Nusantara, Kementrian Pariwisata.


Aku mendapatkan banyak sekali informasi tentang Halal Tourism disana. Mereka pun ikut menghadirkan pelaku-pelaku yang ikut terlibat dalam pemenangan Lombok di World Halal Tourism Award. Halal Tourism sebenarnya bukan Syariah VS Moslem-Friendly, melainkan gabungan keduanya. Syariah, yang sudah tentu moslem-friendly. Pernyataan dari beberapa narasumber mematahkan artikel tentang “Syariah VS Moslem-Friendly”. Di tahun 2016, Sumatera Barat sudah memenangkan Halal Tourism Award tingkat Nasional untuk empat kategori. Dari mulai kategori Biro Perjalanan Wisata Halal Terbaik, Destinasi Wisata Halal Terbaik, Restoran Halal Terbaik, dan Destinasi Kuliner Terbaik, berhasil disambar Sumatera Barat. Tentunya ini sebuah prestasi yang bagus dari Sumatera Barat. Apalagi kuliner, siapa sih yang tidak kenal rendang dan nasi padang?

Masuk ke sesi tanya jawab, beberapa peserta diskusi mulai mengajukan pertanyaan. Dibalik semua prestasi itu, kita tentu tak bisa menutup mata terhadap kelemahan-kelemahan pariwisata di Sumatera Barat. Sampah, toilet, pungli, sampai ke posisi content-creator dalam forum ini. Aku mengharapkan jawaban terbaik. Tak hanya itu, aku juga mengharapkan adanya tanya jawab yang sehat, yang bertujuan mencapai hasil yang bagus. Dan ternyata banyak sekali jawaban dan tanggapan yang hadir, aku mengapresiasinya. Kita harus sama-sama membenahi hal itu, mulai dari diri kita sendiri, saling gotong royong. Untuk sampah, akan disediakan banyak tempat pembuangan sampah. Toilet akan dibangun sesuai dengan standar syariah, begitupun tempat ibadah. Untuk pungutan liar, harusnya tidak ada lagi, oknum-oknum yang bermain curang harus ditindak. Posisi content-creator adalah sebagai perpanjangan tangan Kementrian Pariwisata untuk mensosialisasikan Pariwisata Halal kepada masyarakat, dan mengajak masyarakat untuk vote. Obrolan semakin panjang, sampai akhirnya. Pernyataan defensif pun muncul seperti, “Pariwisata kita tak sepenuhnya dikuasai pemerintah, sulit untuk menjangkau beberapa kawasan”, “Perlihatkan yang bagus-bagus saja, yang jeleknya jangan”, “Kalau kamu cinta Sumatera Barat, ayo vote, bersama kita menangkan Sumatera Barat”.

Apa maksud semua ini? Setelah itu, salah satu pembicara membeberkan bagaimana cara memenangkan Sumatera Barat melalui media sosial. Para content-creator ‘dipaksa’ membuat tulisan bagus dan persuasif. Ia memberikan contoh, Joko Widodo, Presiden RI. Jokowi kuat di sosial media, itu adalah salah satu faktor yang membuatnya menang. Ia juga menjelaskan beberapa cara, yang semuanya hampir sama dengan sistem yang diterapkan Stan Greenberg. Cara itu memang bagus, tapi mempunyai kelemahan. Kelemahannya adalah masyarakat akan kecewa, jika ekspektasi berbanding terbalik dengan realita. Beberapa orang mungkin menerima dengan senang hati karena bantuan dorongan pikiran “Cinta Sumatera Barat = Ayo vote, ayo share, ajak teman-teman”. Maaf, aku tak bisa melakukannya, aku bukanlah orang yang cinta buta dengan Sumatera Barat. Aku mencintai tempat ini, dan aku peduli dengannya.

Setiap content-creator punya alasan yang jelas ketika mengkampanyekan sebuah program. Jika program tersebut bagus, sesuai dengan realita, dan menghasilkan dampak yang besar. Pasti ia akan mati-matian mengajak orang untuk ikut dengannya. Begitu pula sebaliknya. Kamu mungkin pernah melihat beberapa youtuber yang mengajak kita memilih ini atau memilih itu, di masa pemilihan Presiden. Saat ini, beberapa diantara mereka menyesal, bahkan ada yang menghapus videonya. Akhirnya mereka harus membuat video klarifikasi bahwa mereka menyesal mendukung salah satu kandidat, dan menyesal karena sudah mengajak subscriber nya untuk ikut dengan pilihannya. Mungkin kamu (pembaca) masih bingung dengan yang kujelaskan, karena aku masih menyinggung kulit. Tak ada pilihan lain, aku harus menjelaskannya secara jelas. Alam Sumatera Barat memang indah, sumber daya alam kita tiada tandingannya. Tapi kamu pasti bisa melihat jelas, sampah di pantai padang, pungli di pantai padang. Apakah aku harus memperlihatkan yang bagus saja? Kemudian bule-bule Dubai itu datang kesini dan berkata “so beautiful” dan kemudian mereka kecewa dengan keadaan disana. Apa yang terjadi selanjutnya? Kalau aku sih, mending gak balik lagi kesana, kasih tau teman-teman, jangan kesana. Apalagi jika yang datang adalah travel blogger dari luar negeri, bisa kamu bayangkan, apa yang akan dia tulis nanti. Bisakah Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran Pariwisata Nusantara, Kementrian Pariwisata mengatakan kepadanya, “tulis yang bagus-bagus saja ya, yang jelek-jelek jangan”.

Di Bulan Agustus kemarin, aku menjadi mentor seorang mahasiswa dari St. Pauli University bernama Ryuki Fujita. Aku dan temanku Ijul mengajarkannya fotografi, videografi, menulis artikel dan public speaking. Ryuki berbagi cerita denganku tentang pengalamannya ikut di program ‘Lead the tourism’. Sebelum datang ke Sumatera Barat, ia mencari tahu tentang Sumatera Barat dari internet. Kemudian ia mendapatkan beberapa informasi dan memberikan reaksi. Ia menyukai pemandangan di Sumatera Barat, tapi juga takut terhadap gempa dan terorisme. Disaat ia sudah tiba di Sumatera Barat, ia menjelajahi beberapa daerah, dan kemudian ia menyadari ia salah. Pemandangan di Sumatera Barat memang indah, tetapi tidak dengan sampahnya. Disini juga tidak ada teroris, yang ada hanya orang-orang lokal yang ramah. Dan Ryuki sangat suka untuk ngopi di warung kopi kecil, karena bisa ngobrol dengan orang-orang disana. Aku memberitahunya, “Filosofi warung kopi adalah, it’s not about the coffee, it’s about conversation with strangers”. Kemudian ia berkata “Kenapa kamu tidak mengandalkan itu? Keramahan penduduk. Itu akan jauh lebih baik dibandingkan kamu mengutamakan alam yang bagus. Maaf, Pantai Muaro Lasak adalah tempat yang tidak menyenangkan. Aku hanya menemukan ketenangan ketika kamu membawaku ke Pantai Universitas Bung Hatta. Dan aku heran disaat kamu berkata tempat ini bukan destinasi wisata. Karena tempat ini jauh lebih bagus dibandingkan dengan Muaro Lasak”.


Kembali ke Halal Tourism. Aku tak mau menjadi tim hore-hore saja. Jika aku tak berada di pihak yang memberi suara untuk Sumatera Barat, itu bukan berarti aku tidak peduli dengan tempat ini. Justru orang-orang yang berdiri di tempat yang sama denganku, adalah orang yang sangat peduli akan daerahnya. Jika ingin mendatangkan turis dan traveller, sebaiknya benahi dulu semuanya. Sehingga semua merasa senang, aman dan nyaman. Program-program pemerintah kita bagus-bagus, beberapa diantaranya sangat-sangat kreatif, sayang eksekusinya lemah. Belum saatnya Sumatera Barat mendapatkan Award seperti ini, khususnya untuk World Best Halal Destination. Jika pengunjung datang dan kecewa (bahkan tidak datang sama sekali), siapa yang akan merana? Kita semua. Hotel akan sepi, karena sepi nya wisatawan mancanegara, bukan tidak mungkin wisatawan lokal juga tidak akan berkunjung. Nelayan akan sedih, walau hasil tangkapannya banyak, hotel tak lagi meminta suplai yang banyak. Perusahaan tour & travel akan mengalihkan target market mereka hanya untuk wisatawan lokal. Kuliner terbaik Sumatera Barat, rendang dan nasi padang akan kembali dinikmati oleh masyarakat kita saja. Semuanya terkena dampak, jika Brand sudah jatuh.


Di akhir tulisan ini, aku hanya ingin berkata. Ini lah alasanku, kenapa aku tak ikut memilih Sumatera Barat di World Halal Tourism Award 2016. Aku tak mengajakmu untuk setuju denganku, jika kamu punya pilihan berbeda, tak akan jadi masalah. Kita takkan bermusuhan, perbedaan pendapat itu biasa. Aku suka Mie Sedap, kamu suka Indomie. Vote atau tidak adalah hak prerogatif teman-teman. 
Satu kata pamungkas untuk penutup. CERDASI!

Selasa, 12 April 2016

Padang Banyak Event

Malam ini saya ngumpul sama teman-teman Street Photography Festival 2015. Namun kami tidak membicarakan tentang kegiatan festival yang ingin diadakan tahun 2016 ini. Justru kami membahas event-event lain yang saat ini sedang rame-rame nya di Padang.

Banyak nya event yang diadakan di kota Padang tentu menghadirkan banyak keuntungan, namun juga banyak kerugiannya. Keuntungannya tentu saja, Padang semakin rame, pertumbuhan ekonomi mikro dan makro semakin berkembang, dan semakin banyak pekerjaan dadakan yang bisa dibuat untuk menyambut event-event ini. Kerugiannya, karena banyak jadwal yang bertubrukan maka tentu saja ada yang rame, ada yang sepi. Tapi saat ini saya melihat banyak bermunculan EO baru yang kreatif dengan metode dan cara-cara yang segar. Semoga semakin memacu kreatifitas pemain lama juga untuk memperbaharui metode nya.

Yok, kita cek satu persatu. Saya mulai dari akhir 2015, karena memang lagi rame-rame nya saat itu. Mungkin ada beberapa kekurangan, karena saya posting cuma yang saya tau. Kalau teman-teman punya rekomendasi event lain rentang akhir 2015 sampai sekarang, silahkan tulis di komentar. 

Pertama ada event fotografi di tahun 2015 yaitu Street Photography Festival yang diadakan oleh Street Photo Hunters dan Gadgetgrapher Sumbar. Saya tau detail kegiatan ini karena saya ikut terlibat sebagai sekretaris kegiatan. Event ini adalah event Street Photography Festival pertama di Asia, jadi cukup berbangga. Di Eropa diadakan di London dan di Amerika diadakan di Miami. Walaupun belum mencukupi persyaratan sebagai sebuah festival, namun event ini sudah banyak diperbincangkan di berbagai daerah di Indonesia dan Malaysia. Balapan juga sama India karena setau saya di India juga mau bikin di pertengahan tahun tapi akhirnya gabung sama London Street Photography Festival. Kemudian setelah event ini diadakan, daerah lain seperti Jakarta juga mau bikin. Wess kapan lagi kan, yang pertama justru datang dari Padang, biasanya kan Jakarta mulu.

Next, di awal 2016 ada dari dunia perfilman yang diadakan oleh komunitas Cinemama. Beberapa kru Cinemama juga menyempatkan hadir di acara Street Photography Festival Sumatera Barat. Mereka mengadakan pemutaran film dokumenter yang mereka buat bernama Ingatan Visual. Kurang lebih Ingatan Visual bercerita tentang budaya yang ada di Minangkabau, kebanyakan budaya baru dan juga seni tradisional yang sudah mulai dilupakan oleh masyarakat. Ada Tari Kain, ada Salawat Dulang, ada Silek Lanyah, dll. Jika sebelum-sebelumnya Sumatera Barat lebih dikenal dengan event Pacu Jawi, Tari Pasambahan, Tari Piriang dan Pacu Itiak. Cinemama mencoba mengambil sesuatu yang berbeda. Cara penayangannya cukup unik. Ada beberapa layar yang disediakan, masing-masing menampilkan satu kegiatan dan ada sesi wawancara dengan pelakunya. Keren.

Selanjutnya ada Padang Sound Project (PSP) dan Padang Dance Movement (PDM) di tahun 2016. Saya sendiri kurang tau detail event nya seperti apa, yang saya tau dari temen-temen ya 'dugem rame-rame' karena menghadirkan banyak DJ, disk jokey ya bukan Dijah Yellow atau Titi DJ. Di Jakarta sebelumnya ada DWP, konsepnya saya liat hampir sama. Event ini sangat meriah, karena menurut statistik saat ini minat masyarakat masih seputar Musik & Komedi. Kalau sebelumnya banyak sekali kegiatan Color Run, sekarang malah gak keliatan lagi.



Event audisi-audisi seperti Uda Uni & Putri Hijab juga tidak ketinggalan. Sayangnya saya tidak mendapatkan banyak informasi tentang Uda Uni. Kalau Putri Hijab saya liat digital flyer nya di akun Info Sumbar. Karena acaranya banyak yang dempet, alhasil Putri Hijab aja cuma mendapatkan belasan kontestan. Padahal acara nya di Hotel Axana lho, sebelumnya di Bumi Minang sih, pindah tempat, tempatnya kan gede tuh. Ini kurang informasi tentang event lain yang serupa atau berlomba-lomba siapa yang bisa menjaring peserta lebih banyak ya. Yah walaupun begitu, mudah-mudahan sukses dan yang terpilih bisa bersaing lagi di Jakarta.



Kemudian ada lagi event musik yang menghadirkan beberapa musisi yang, eeee bagaimana ngomongnya ya, saya juga gak terlalu paham soalnya, beberapa teman bilang folk. Tapi yang saya tangkap adalah musisi yang membawakan lagu yang puitis. Contohnya ada Sore, Efek Rumah Kaca (ini udah lama saya denger lagu-lagunya, dari SMA malahan), kemudian yang terbaru ada Payung Teduh. Band pembuka nya ada temen-temen saya dari Goddbye John. Semangat men, main yang keren.



Satu lagi yang tak kalah menghebohkan adalah MNEK yang diakan pemerintah. Opo Mnek? Eh salah, harus nya opo mneh, aku gak paham bahasa jawa padahal. Tu nya cuma opo iki dan mangan, haha malah ngawur. Kegiatan Komodo 2016 yang berisikan berbagai kegiatan dengan empat acara internasional di Kota Padang dan Kabupaten Kepulauan Mentawai, Sumbar akan dilangsungkan tanggal 12 hingga 16 April 2016. Ada 36 negara yang ikut, banyak ya. Yang jelas dari berbagai sumber yang saya dapat, ini adalah kegiatan latihan militer bersama. Ada Lomba Marandang dan Peresmian Tugu Merpati Perdamaian di Danau Cimpago dan Pantai Muaro Lasak oleh Presiden Jokowi. Kemudian ada juga kegiatan lain yaitu pertandingan bola pantai.
Saya jadi ingat film Battleship, ada latihan militer bersama yang diadakan Amerika Serikat, ada pertandingan bolanya juga yang dimenangkan Jepang. Tapi kemudian saat semua kapal perangnya latihan, muncul Alien menginvasi Bumi. Mudah-mudahan yang di Padang tidak terjadi hal seperti itu. Lagi enak-enak bikin rendang, muncul Alien minta rendang. Penduduk Bumi bilang, ini namanya rendang. Dan Alien menjawab, !@#$$%^&&*). Nah itu bahasa Alien, artikan sendiri. Akhirnya mereka berdebat kembali apa sebenarnya nama masakan ini, hingga terjadi Civil War. Tentukan pilihanmu, Team Bumi atau Team Alien.

Aduh ini kok semakin ngawur, ya sudah. Kita akhiri, semoga tulisan ini bermanfaat untuk anda semua para pembaca. Abaikan omongan ngawur saya karena itu cuma sekedar candaan. Semoga saya tidak dicari oleh semua aparat yang membaca tulisan terakhir saya.

Terima kasih, bagi yang gak mau ketinggalan tulisan saya berikutnya, silahkan bookmark blog ini di browser kamu. Atau kamu juga bisa add to circle bagi yang suka buka google plus. Jangan lupa, seperti yang saya tuliskan tadi. Kamu juga bisa berbagi info event yang tidak ada di tulisan ini di kolom komentar. Mudah-mudahan saya bisa lanjutkan tulisan ini ke part II part III dan seterusnya. Sampai jumpa.

Selasa, 05 April 2016

Menelusuri Sejarah Fotografi Jalanan

Tulisan asli oleh Irma Chantily

Direpost dan disadur oleh Kurniadi Ilham & Maklum Foto
=======================================

[Temukan juga tulisan saya di https://maklumfoto.wordpress.com/]

Street photography telah jadi topik hangat beberapa tahun belakangan ini. Semakin banyak fotografer, baik yang profesional maupun yang amatir, memotret jalan-jalan dan orang- orang di sekitar mereka. Ketenaran pendekatan ini tak bisa dipisahkan dari kepopuleran internet dan media sosial, tempat setiap orang berhak memamerkan jurnal visual keseharian mereka dan orang lain punya hak yang sama untuk memuja atau menghujat karya-karya tersebut.
Kemunculan dan ketenaran beberapa situs yang didedikasikan untuk street photography, seperti Invisible Photographer Asia dan Sidewalker Asia, juga turut membantu penyebarluasan gaya ini di masyarakat. Para street photographer—bolehlah kita sebut mereka fotografer jalanan—jadi punya ruang khusus untuk bersanding dengan rekan- rekannya dari seluruh penjuru dunia. Ruang yang bukan untuk snapshot, bukan pula dokumenter, jurnalistik atau fotografi seni.

Layaknya sesuatu yang “baru”—dan seakan tak dikenal sebelumnya—banyak kalangan yang kemudian sibuk mencoba merumuskan apa dan bagaimana sebetulnya fotografi jalanan—dan dengan demikian, apa yang tidak termasuk ke dalamnya. Coba saja pergunakan telusuri arti kata kunci street photography di jagat maya. Banyak sekali arti akan ditawarkan, semuanya menyodorkan istilah dan aturan yang “seharusnya” diterapkan ketika hendak mempraktikkan fotografi jalanan. Padahal, ibarat lagu lama aransemen baru, gaya dan pendekatan ini bukanlah sesuatu yang baru muncul ketika teknologi kamera dan internet sudah semaju sekarang.
Perkembangan praktik dan pendekatan fotografi jalanan—layaknya praktik dan pendekatan fotografi yang lain, tak bisa dipisahkan dari sejarah dan kemajuan teknologi kamera itu sendiri. Kedua hal ini akan saling mempengaruhi, mendukung dan bereaksi— saling berkelindan hingga ke bentuk fotografi jalanan yang lazim kita temui dewasa ini.
Tulisan ini hendak mencoba menjabarkan peranan rantai sejarah dan perdebatan yang mengiringi tumbuh-kembang fotografi jalanan ke dalam dua bagian yang terpisah. Bagian yang pertama akan melihat para fotografer yang dianggap telah menghasilkan karya fotografi jalanan sejak abad ke-19. Bagian selanjutnya bermaksud menguraikan beberapa pokok perdebatan yang sering kali terbit ketika membicarakan praktik fotografi jalanan.

Fotografer Keliling Monas  dan  Tradisi Awal Street Photography

Pernah bertemu orang-orang yang berkeliling dan menawarkan jasa fotografi kepada anda di Monas? Mereka sudah beroperasi di Monas sejak 1970-an. Jika mau memiliki tanda bukti atas kunjungan anda ke sini, anda bisa memanfaatkan jasa mereka. Berposelah di monumen kebanggaan Soekarno itu; berlagak seperti anda sedang menyentuh, memeluk, atau mendudukinya. Sang fotografer akan memotret anda—memanfaatkan perspektif, kedalaman, serta cara pandang lensa. Hasil potret bisa langsung dicetak untuk anda bawa pulang. Sekitar lima tahun yang lalu, anda tinggal merogoh kocek sebesar sekitar Rp15.000 dan kenang-kenangan itu akan menjadi milik anda selamanya.
Yang dilakukan oleh para fotografer Monas itulah kira-kira yang disebut Colin Westerbeck dalam buku Bystander: A History of Street Photography (1994) sebagai awal mula pendekatan ini. Fotografer jalanan adalah orang-orang yang berada di ruang publik dengan kamera dan menawarkan jasa fotografi kepada orang yang lalu-lalang . Namun menolehlah lagi ke belakang, dan kita akan menemukan sesungguhnya gaya fotografi jalanan sudah dipraktikkan jauh sebelum kita banyak berdebat tentang definisi dan aturan yang mengikatnya di abad ke-21 ini. Jauh ke belakang, hingga kita bisa menemukan acuan visual fotografi jalanan dari karya-karya lukisan.
Kelahiran fotografi di Eropa bersamaan dengan Revolusi Industri, ketika metode kerja manusia perlahan mulai terotomatisasi dan kemajuan teknologi serta beragam penemuan baru di bidang optikal dan kimiawi semakin memudahkan hidup manusia. Masyarakat abad ke-19 menganggap mereka tengah berada di titik puncak kemajuan teknologi. Demikianlah kota-kota baru bermunculan bersamaan dengan globalisasi dan urbanisasi. Lanskap berubah. Masyarakat yang anonim tinggal bersama, dibatasi dinding, dan berpapasan hanya di ruang publik.
Realitas yang baru itulah yang dengan semangat diabadikan menggunakan fotografi. Kemampuan medium ini untuk merekam momen dengan cepat telah melampaui apa yang pernah dibayangkan manusia—yang selama ini tergantung pada para pelukis dan karya mereka untuk merepresentasikan sekeliling kita lewat citraan visual. Dengan cepat fotografi—dan fotografer—memanfaatkan momentum itu; mereka mendokumentasikan apa saja yang ada di sekeliling mereka: orang, bangunan, lanskap, interaksi manusia dengan sesama manusia serta interaksi manusia dengan lingkungannya.
Hubungan fotografer dengan kota memang selalu erat. Hampir semua jagoan fotografi kaliber dunia yang kita kenal pernah memotret kota tempat mereka tinggal dan jalan-jalan yang mereka susuri. Tak heran pula jika hasil penelusuran atas sejarah fotografi akan memperlihatkan bahwa foto-foto yang pertama diambil adalah yang memperlihatkan jalanan, atau yang diambil di jalanan. Ingatlah daguerreotype buatan Louis Daguerre (1787-1851) Boulevard du Temple (1938). Karya itu adalah salah satu gambar pertama yang memperlihatkan jalanan, sekaligus mengabadikan orang di dalam sebidang foto.

Louis Daguerre, Boulevard du Temple (1938)
Berangkat dari asal kata dan sejarah yang meliputi gaya ini, bisa kita tarik kesimpulan bahwa fotografi jalanan adalah foto-foto yang dihasilkan di jalanan dan yang merekam kehidupan orang lalu-lalang. Tentu saja definisi sangat sederhana ini kemudian mengalami perkembangan dan perdebatan karena adanya perubahan realitas sosial dan perkembangan teknologi kamera itu sendiri. Kini fotografi jalanan tidak lagi melulu berarti diambil di jalanan, ia bisa jadi diambil di ruang publik mana pun—pantai, taman, kafe, mal atau tempat terbuka mana pun lainnya yang mengizinkan orang-orang yang tak saling kenal mengaksesnya secara bersamaan.
Dalam bentuknya yang paling dasar, fotografi jalanan misalnya telah dilakukan oleh Eugene Atget (1857-1927) pada awal abad ke-20. Karya-karya Atget atas pendokumentasian kota Paris tua yang ekstensif bisa kita kenal berkat fotografer jalanan lainnya, Berenice Abbott (1898-1991). Abbott kemudian melakukan hal yang sama di kota tempat ia berasal, New York. Koleksi Atget di Paris dan Abbott di New York memperlihatkan kepada kita pengamatan atas detail desain interior yang kaya dan lanskap kota beserta bangunannya. Karya kedua fotografer ini tidak hanya memperlihatkan bangunan dan bentuk arsitektur, tapi juga konteks tempat bangunan itu berada. Mereka memotret jalanan, ruang dan orang- orang yang menempatinya. Melalui foto-foto Atget jugalah, kelompok surrealis seakan menemukan visi mereka tentang kota idaman; labirin urban tentang memori dan harapan.
Lain halnya dengan Robert Doisneau (1912-1994). Fotografer ini dikenal karena kefasihannya mendokumentasikan kehidupan di seputar kafe-kafe di Paris. Sebagai fotografer lepas pada 1950-an, Doisneau berhasil merekam momen dan warna kehidupan kota tersebut, sering kali dengan jepretan yang jenaka dan penuh empati. Foto-fotonya mengalun ringan, seringan langkahnya ketika menyusuri dan mengamati pasangan muda berciuman, pelukis melukis di jembatan, atau perempuan muda yang menikmati segelas anggur merah.

Robert Doisneau, Un Regard Oblique (1948)
Mungkin di antara sekian banyak fotografer jalanan yang telah menorehkan perannya dalam perkembangan gaya ini, Henri Cartier-Bresson adalah nama yang paling dikenal. Dengan “decisive moment”-nya, Bresson dikenal luas atas karya-karyanya yang dinamis, puitis dan penuh pertimbangan komposisi yang seimbang dan sering kali serupa mimpi. Lebih ingin dianggap sebagai fotografer surrealis daripada label lainnya, Bresson kerap memanfaatkan perspektif dan unsur dua dimensi dari foto untuk memberikan cara pandang yang khas tentang apa-apa yang terjadi di jalanan.
Jika kita lihat karyanya yang dibuat di Naples (1960), kita akan melihat bagaimana dengan cermat Bresson membuat subyeknya seakan berjalan menuruni pegangan tangga. Atau bagaimana dengan mengamati fotonya yang mungkin paling sering dijadikan rujukan, kita bisa melihat dua sosok yang melompat, menghasilkan komposisi dan keseimbangan yang sempurna. Foto-foto Bresson yang lain juga kerap memanfaatkan kekuatan bayangan dan komposisi terang-gelap—menjadikan subyek yang ia foto kurang penting di hadapan bayangan dan menghadirkan bentuk geometri yang kuat.

Henri Cartier-Bresson – France (1932)
Perkembangan teknologi kamera juga telah mengizinkan para fotografer menjelajahi cara pengambilan gambar yang berbeda dan merekam kota mereka dengan sapuan pandang yang tak pernah dilakukan sebelumnya. Kredo “Decisive moment”-nya Bresson mengandaikan adanya momen puncak dalam sebuah keadaan, ketika setiap elemen dalam bidang foto akan bergerak dan menempati posisi yang paling sempurna—momen puncak yang diakhiri ketika sang fotografer menekan tombol shutter.
Tanpa kehadiran kamera yang ringan, atau film yang memiliki kepekaan cahaya yang cukup tinggi, momen yang berkelebat bisa jadi terlalu sulit untuk diabadikan. Kemajuan teknologi kamera juga menjelmakan aplikasi teknis memotret yang dilakukan oleh Alexander Rodchenko (1891-1956), menghadirkan sudut pandang yang tak pernah terlihat sebelumnya. Rodchenko dikenal atas karya-karya foto yang berani dan tidak biasa. Ia memanfaatkan latar belakangnya sebagai pematung, pelukis dan desainer grafis, untuk menjelajahi beragam perspektif dan bentuk geometri untuk menghasilkan karya yang kuat secara visual dan berkesan modern dengan perspektif yang ekstrem.
Perkembangan teknologi kamera juga telah mengizinkan para fotografer menjelajahi cara pengambilan gambar yang berbeda dan merekam kota mereka dengan sapuan pandang yang tak pernah dilakukan sebelumnya. Kredo “Decisive moment”-nya Bresson mengandaikan adanya momen puncak dalam sebuah keadaan, ketika setiap elemen dalam bidang foto akan bergerak dan menempati posisi yang paling sempurna—momen puncak yang diakhiri ketika sang fotografer menekan tombol shutter.
Tanpa kehadiran kamera yang ringan, atau film yang memiliki kepekaan cahaya yang cukup tinggi, momen yang berkelebat bisa jadi terlalu sulit untuk diabadikan. Kemajuan teknologi kamera juga menjelmakan aplikasi teknis memotret yang dilakukan oleh Alexander Rodchenko (1891-1956), menghadirkan sudut pandang yang tak pernah terlihat sebelumnya. Rodchenko dikenal atas karya-karya foto yang berani dan tidak biasa. Ia memanfaatkan latar belakangnya sebagai pematung, pelukis dan desainer grafis, untuk menjelajahi beragam perspektif dan bentuk geometri untuk menghasilkan karya yang kuat secara visual dan berkesan modern dengan perspektif yang ekstrem.

Alexander Rodchenko, Street
Melalui sudut pandang yang sama sekali baru, karya-karya Rodchenko mencerminkan semangat revolusi Rusia dan Konstruksivisme yang ketika itu sedang berkembang: menggunakan aspek baru dalam berkesenian untuk mendapatkan hasil yang revolusioner.
Tentu saja, banyak fotografer lainnya yang patut disebut dalam kerangka fotografi jalanan. Dari Amerika dan Eropa kita mengenal karya-karya yang dihasilkan oleh Robert Frank, Diane Arbus, Jacob Riis, Walker Evans. Dari Jepang, Daido Moriyama dan Kohei Yoshiyuki memperlihatkan kepiawaiannya sebagai fotografer yang tak kasat mata di ruang publik dan menelanjangi kehidupan masyarakat Jepang. Semuanya berawal dari praktik para fotografer untuk mendokumentasikan kehidupan sehari-hari yang terjadi di jalanan, di ruang publik—mendokumentasikan sejarah, mengabadikan yang sesaat sebelum kemudian hilang dimakan waktu.
Layaknya genre dan pendekatan fotografi yang lain, definisi fotografi jalanan dan bagaimana gaya ini dipraktikkan oleh para fotografer juga terus berubah seiring dengan perkembangan zaman. Serupa definisi fotografi dokumenter; awalnya hanya berarti mendokumentasikan, lalu akademisi mulai mengimbuhi genre ini dengan pesan sosial atau narasi besar lainnya, dan terus berubah hingga kini fotografi dokumenter bisa bercerita tentang bragam perspektif, baik narasi besar atau pun narasi kecil yang lebih personal.
Tak berbeda dengan fotografi jalanan. Banyak jenis karya dan pendekatan yang bisa dianggap sebagai fotografi jalanan, meski tak semuanya adalah fotografi jalanan. Memotret dengan seketika, snapshot, bisa jadi adalah salah satu bentuk dari fotografi jalanan. Namun tentu tak semua snapshot adalah fotografi jalanan. Jika saja kita sedikit membebaskan diri dari kota-kotak genre fotografi, kita bisa melihat bahwa fotografer yang ingin mengabadikan kota yang tengah berubah dan bagaimana masyarakat sekeliling mereka hidup adalah manifestasi dari fotografi jalanan. Begitu pula dengan para fotografer yang menawarkan jasa fotografi kepada orang di ruang publik. Tak ketinggalan adalah para fotografer yang kuat dalam opini ideologi dan menggunakan fotografi sebagai medium berekspresi.

Perdebatan yang Menghangat

Hal lain yang selayaknya turut dicermati ketika membicarakan soal fotografi adalah konteks konotasi yang dihasilkan dari pembuatan sebuah foto—atau bagaimana cara memotretnya; candid atau tidak, sudut pandang dan fokus, dan lain sebagainya. Selain itu, perdebatan juga biasa melibatkan tempat foto diambil, subyek dan obyek yang “seharusnya” ada, serta aspek teknis lainnya, seperti jenis kamera yang digunakan, penggunaan flash, editing gambar dan lain-lain.
Sudah tentu, perdebatan tentang soal-soal tadi selalu membuat perkembangan medium terkait jadi lebih dinamis. Begitu pula dengan fotografi. Sejak pertama kali muncul, kehadiran fotografi sudah mengundang kontroversi—baik dari kalangan di luar praktisi fotografi, atau pun sesama fotografer yang berbeda “kubu”. Misalnya saja perdebatan tentang apakah sebuah foto itu subyektif atau obyektif. Jika mengikuti dalil John Berger dalam bukunya yang bertajuk Another Way of Telling, maka fotografi sesungguhnya mengutip realitas—bukan menerjemahkannya seperti lukisan. Foto, yang dihasilkan dalam sepersekian detik menggunakan refleksi cahaya atas benda-benda, adalah gambar visual tanpa kode, pengalaman atau pun kesadaran.
Contoh lain adalah perdebatan laten di kalangan fotografer jurnalistik dan dokumenter: jika fotografi adalah penghadir realita, maka sejauh mana hasil karya foto boleh dimanipulasi? Dulu foto dokumenter harus diberi bingkai hitam sebagai tanda bahwa segala sesuatu yang terfoto sesuai asli dan tidak ada yang diubah dengan sengaja. Menggunakan flash juga tidak diizinkan karena dianggap memberikan elemen tambahan pada realitas yang hendak ditangkap.
Soal menggunakan flash ini juga turut menjadi salah satu butir yang didiskusikan dalam ranah fotografi jalanan. Ada kelompok yang menolak penggunaan flash, ada yang mengamini saja. Child with Toy Hand Grenade in Central Park karya Diane Arbus (1923-1971) jelas dibuat menggunakan flash. Cahaya matahari yang jatuh ke arah lensa akan menutupi wajah si anak jika Arbus tidak menggunakan flash. Praktik yang sama juga dilakukan oleh Jacob Riis (1849-1914), fotografer jurnalistik Amerika Serikat pertama. Ia menggunakan flash powder untuk membantu pemotretan di tempat-tempat yang biasa ia datangi: ruangan kumuh dan gelap, bar tak berjendela dengan langit-langit rendah, kamar sempit yang ditempati banyak orang, dan jalan-jalan yang muram tempat berdiamnya kelompok masyarakat miskin di New York.

Diane Arbus, Child with Toy Hand Grenade in Central Park, New York City (1962)
Liz Wells, editor buku Photography: A Critical Introduction, mengatakan bahwa melakukan cropping dan mengubah warna foto dokumenter bisa membuat anda kehilangan kredibilitas sebagai seorang fotografer. Hingga kini perdebatan itu masih berlanjut dan justru sempat menghangat ketika  Photography menawarkan jasa untuk sedikit “memperbaiki” warna foto secara digital. Padahal, menurut Victor Burgin, manipulasi adalah esensi dari fotografi. Para fotografer adalah orang-orang yang memanipulasi aspek fisik dan produksi foto: kamera, film, cahaya, obyek dan manusia. Semua itu dilakukan fotografer untuk mereproduksi citraan dunia sebagai “obyek kontemplasi visual”.
Subyektivitas dalam fotografi dan kesadaran “memanipulasi” tertuang dalam gaya fotografi jalanan modern yang berkembang di Amerika pada 1950-an. Ketika itu, representasi visual yang terbut adalah yang menawarkan bentuk visual yang spontan dan langsung, subyektif, serta mampu memperlihatkan emosi suatu zaman. Bantahan Robert Frank (lahir 1924) atas kredo “decisive moment”-nya Bresson turut berperan dalam perkembangan konsep fotografi jalanan yang baru. Bagi Frank, semua momen adalah puncak dan bernilai, ditandai dengan keputusan seorang fotografer untuk mengabadikan momen tersebut dengan kamerany. Fotografi jalanan dianggap bertujuan mencari momen acak di ruang publik, menemukan ketakterdugaan di tengah komposisi yang tersusun rapi.

Robert Frank, Political Rally (1956)
Menemukan ketakterdugaan dengan komposisi dan jukstaposisi yang kuat di ruang publik bisa menghasilkan foto jalanan yang menarik. Sulit, memang. Tapi justru di situlah letak tantangan para fotografer jalanan dewasa ini. Menyeimbangkan semua elemen tadi, dan menghindari citra yang klise—semua itu untuk menemukan acuan visual termutakhir bagi fotografi jalanan.
Mempelajari sejarah dan menoleh ke belakang bukanlah semata usaha bernostalgia dan menumbuhkan romantisme. Masa lalu bisa mengajarkan kita akan perjalanan panjang praktik fotografi jalanan, bagaimana ia berkelindan dengan medium lain, situasi sosial, politik, serta kemajuan teknologi kamera. Saling mempengaruhi di antara semua aspek tadi pada akhirnya akan menerbitkan referensi visual dan pewacanaan fotografi yang terus menerus terbarui.

==========================================================
Profil Irma Chantily

Irma Chantily lahir di Jakarta, 1985. Ia adalah penikmat fotografi, meski sama sekali bukan fotografer. Ia beberapa kali menulis tentang fotografi di media massa cetak dan online serta terlibat dalam produksi pameran foto atau seni rupa—baik sebagai kepala proyek, kurator, asisten kurator, penulis atau pun editor. Walau belum cukup sering atau pun mahir, Irma juga gemar melibatkan diri pada beberapa proyek penelitian fotografi Indonesia. Bersama dua rekannya, ia membuat sejarahfoto.com, sebuah inisiatif untuk mencoba memetakan sejarah fotografi Indonesia. Pada 2011, Irma bergabung dengan Komunitas Salihara dan satu tahun kemudian ia menjadi manajer arsip dan dokumentasi—sambil terkadang tetap memenuhi panggilan untuk menjadi pengajar lepas di Program Studi Fotografi, Institut Kesenian Jakarta.

==========================================================

Sumber

Gerry Badger, Theory : The Indecisive Moment: Frank, Klein and “Stream-Of-Consciousness” Photography (2004). http://www.americansuburbx.com
Liz Wells, ed., Photography: A Critical Introduction (2004), 100
dan berbagai sumber yang relevan