Sabtu, 21 Februari 2015

Sebuah Inovasi Series - Alat Pemisah Kuning dan Putih Telur

Selamat malam

Malam ini saya akan melanjutkan "Sebuah Inovasi Series", sebelumnya saya sudah bahas tentang PZ, Alat Makan Pizza. Nah kali ini saya akan membahas tentang alat sederhana namun memiliki fungsi yang sangat membantu. Seperti yang saya katakan di postingan sebelumnya, mulai lah inovasi dengan sesuatu yang kecil namun memberikan dampak yang besar. 

Saya tidak tahu siapa yang pertama kali membuah alat pemisah kuning dan putih telur ini, sudah saya browsing namun tidak ketemu juga. Ada beberapa artikel yang mengatakan bahwa alat ini pertama kali masuk ke Indonesia dari Cina, ada juga yang mengatakan dari Surabaya. Mari kita lihat gambar alat pemisah kuning dan putih telur.

Biasanya untuk membuat kue, kita memisahkan kuning dan putihnya secara manual. Saya lihat ibu saya membuka telur dengan sangat hati-hati, kemudian dipisah bagian putihnya secara perlahan. Tentu membutuhkan kemampuan yang hebat, ketelitian dan timing yang pas. Saya sudah pernah coba sendiri dan sering gagal.

Alat ini memudahkan banyak ibu-ibu rumah tangga, koki bahkan untuk wanita-wanita muda yang belajar memasak. Fungsi lain, untuk kecantikan. Putih telur jelas dibutuhkan sebagai bahan master. Satu alat dengan dua fungsi, kecil, sederhana, namun banyak guna.

Mulai lah membuat inovasi, mulai dari hal kecil di sekitar kamu. Terima kasih dan semoga bermanfaat. Jangan lupa nantikan "Sebuah Inovasi Series" selanjutnya.

Kamu juga bisa pesan produk diatas disini: Alat Pemisah Kuning dan Putih Telur - KIRA Shop Padang

Lanjutan dari Rebranding: "REPOSITIONING"

Selamat siang, hari ini cuaca cukup cerah di Padang, sebenarnya sangat terik dan saya harus berada di bawah kipas angin saat ini karena saking panasnya. (belum mampu beli AC).

Oke, seperti janji saya sebelumnya di tulisan REBRANDING, akan saya lanjutkan dengan bahasan selanjutnya yaitu REPOSITIONING.

Apa itu Repositioning? Saya tidak akan bahas etimologi, bahasa atau kajian istilahnya dulu, menurut saya ribet. Di awal-awal ini kita bahas nya ringan-ringan aja dulu, bagian ribetnya nanti. Saya akan menjelaskan arti Repositioning lewat gambar di bawah ini.


Dari gambar diatas dapat dilihat bahwa ikan-ikan tersebut pindah ke akuarium yang lebih besar. Ikan tumbuh seperti hewan lainnya, ukurannya bertambah besar dan panjang dari waktu ke waktu (kecuali gak dikasih makan, ya mati). Seiring semakin besar dan panjangnya ikan-ikan tadi, maka mereka membutuhkan ruang yang besar juga. Lantas bagaimana kaitannya dengan Repositioning? Nah kita akan masuk ke dunia usaha. Yang ini mungkin lebih rumit dari penjelasan tadi, tapi jika kamu sudah paham dengan apa yang saya jelaskan diatas, kamu akan lebih mudah memahami tentang Repositioning dalam sebuah usaha.

Repositioning punya kaitan yang erat dengan Rebranding, namun keduanya berbeda. Repositioning berarti membuat ulang stategi penempatan posisi sebuah brand di benak konsumen, dengan cara memberi makna dan image baru. Sedangkan, rebranding adalah kegiatan yang melibatkan pergantian identitas dari brand, baik itu berupa perubahan logo, perubahan nama/merek hingga perubahan proyeksi citra di benak konsumen. Pada umumnya, rebranding mengandung unsur repositioning. Sebaliknya, repositioning tidak selalu membutuhkan rebranding. Dalam repositioning murni, yang berubah adalah makna dari brand, sedangkan identitas lamanya tetap dipertahankan.

Contoh repositioning (tanpa rebranding) yang berhasil adalah yang diterapkan oleh brand Samsung.  Dahulu, Samsung dikenal dan diasosiasikan dengan produk buatan Korea yang konservatif dan low quality. Saat ini, telah terbentuk citra baru menjadi sebuah global brand yang inovatif dan modern. Peningkatan ranking brand equity dalam survey global brand versi Interbrand juga fantastis.  Peringkat 42 pada tahun 2001 yang meningkat menjadi peringkat ke 21 pada tahun 2007, membuktikan keseriusan dan konsistensinya dalam pengembangan brand. Terlebih lagi, Samsung berhasil menggeser posisi Sony yang turun dari peringkat 21 ke 25 dalam kurun waktu yang sama.

Repositioning yang diikuti oleh rebranding dilakukan oleh perusahaan atau brand yang ingin melepaskan diri dari citra lamanya. Ini sudah dilakukan oleh banyak BUMN. Strategi rebranding-repositioning dikerjakan dengan tujuan merubah organisasi menjadi lebih consumer oriented, profesional dan modern. Perubahan internal ini yang kemudian dikomunikasikan ke eksternal melalui identitas baru. Beberapa contoh BUMN yang rebranding/repositioning meliputi Garuda Indonesia, Pertamina, BNI dan baru-baru ini, Kantor berita Antara. Dengan perubahan, diharapkan perusahaan tetap bisa bertahan di tengah persaingan industri yang mulai ketat.

Contoh rebranding yang tidak diikuti oleh repositioning barangkali cocok diberikan untuk Oil of Ulan yang kemudian berubah menjadi Olay beberapa tahun silam. Tujuan dari perubahan nama ini bukan untuk memberikan makna baru bagi produk/brand, tetapi lebih untuk tujuan menyatukan nama produk pelembab milik P&G ini, yang di banyak negara telah lebih dahulu dikenal dengan berbagai nama yang berbeda.

Semoga bermanfaat dan dapat kamu terapkan dalam dunia usaha. Tulisan selanjutnya saya akan melanjutkan seri "Sebuah Inovasi" jadi terus ikuti blog saya. Bagi anda yang ingin menghubungi saya dan ingin konsultasi mengenai bisnis, UKM dan kreatifitas bisa kontak saya via twitter di akun https://twitter.com/choukyin dan kunjungi perusahaan saya yang bergerak di bidang ide kreatif di link https://www.facebook.com/kiracreativeidea untuk kerjasama.

Terima kasih.

Jumat, 20 Februari 2015

Sebuah Inovasi Series - PZ

Malam ini saya ingin berbagi informasi tentang beberapa inovasi yang dibuat oleh anak negeri. Saya merangkumnya dalam sebuah seri dengan nama "Sebuah Inovasi".

Untuk pertama saya akan membahas Alat Makan Pizza bernama PZ. PZ dibuat oleh Quilizy Maggio De Neve (Lizzy). Kalau makan nasi pakai sendok, makan mie pakai garpu/ sumpit, kenapa makan pizza pakai tangan? Maka lahirlah PZ. Berikut data yang saya kutip dari VivaLife.




"VIVAlife - Ide bisa hadir darimana dan kapan saja. Seperti yang dilakukan Quilizy Maggio De Neve atau yang akrab disama Lizy.

Dari kegemarannya makan pizza, ia menciptakan sebuat penjepit pizza, agar bisa menikmati makanan khas Italia itu tanpa mengotori tangan. Ia membuatnya saat sedang duduk di bangku kuliah semester 3 pada 2009 lalu.

"Pizza kan makannya enak pake tangan, kalau pisau garpu tidak nikmat. Kadang males cuci tangan. Muncul ide inspirasi dari pinset untuk membatasi tangan sama pizza," katanya saat ditemui dalam peluncuran situs BiangInovasi.com di kawasan Senopati, Jakarta Selatan, 9 Desember 2014.

Inovasi unik ini diberi nama PZ (dibaca pizet) yang berarti pizza pinset. Proses pembuatannya, lanjut Lizy, selama 6 bulan hingga benar-benar jadi.

Dalam proses pembuatannya, wanita lulusan desain produk ini melakukan banyak riset. Mulai dari ukuran pizza yang pas,  jari setiap orang, dan cara memegang pizza yang nyaman.

PZ ini masih berbentuk Prototipe, terbuat dari dari akrilik dan Lizy membuatnya sendiri. Beberapa tahun berselang, pada 2012 ia ikut sebuah kompetisi inovasi dan karyanya tersebut masuk 20 besar. Pada saat itu ia mempresentasikan 3 barang buatannya yaitu alat kerok dan troli.

Saat ini, Lizy tengah melakukan proses pematenan karya uniknya. "Lagi proses paten sederhana, tahun depan ada sertifikat dan rencananya mau dipasarin," katanya.

Nantinya, Lizy berencana akan memasarkan dan bekerjasama dengan investor. Selain itu dari segi desain akan lebih bermain dengan motif."

Mudah-mudahan nanti semakin banyak inovasi anak negeri. Tak harus membuat sesuatu yang mewah, yang besar. Kita bisa memulainya untuk sesuatu yang kecil tapi bermanfaat banyak. Contohnya seperti PZ yang diciptakan Lizzy.

Sebuah Inovasi Series selanjutnya akan membahas tentang Alat Pemisah Kuning dan Putih Telur.

Senin, 16 Februari 2015

Topik Malam Ini: REBRANDING

Malam ini saya ingin membahas sebuah topik yaitunya Re-branding.



Re-branding berasal dari dua kata yaitunya re dan branding. Re artinya memulai kembali dan branding artinya proses penciptaan brand image yang menghubungkan hati dan benak pelanggannya. Jadi rebranding adalah suatu upaya atau usaha yang dilakukan oleh perusahaan atau lembaga untuk merubah total atau memperbaharui sebuah brand yang telah ada agar menjadi lebih baik, dengan tidak mengabaikan tujuan awal perusahaan, yaitu berorientasi profitproses penciptaan brand image yang menghubungkan hati dan benak pelanggannya. Jadi rebranding adalah suatu upaya atau usaha yang dilakukan oleh perusahaan atau lembaga untuk merubah total atau memperbaharui sebuah brand yang telah ada agar menjadi lebih baik, dengan tidak mengabaikan tujuan awal perusahaan, yaitu berorientasi profit.

Dalam proses Rebranding, bisa jadi yang diubah adalah logo dan bisa jadi juga nama.Perubahan logo mungkin sudah banyak dilakukan oleh banyak perusahaan diantaranya Microsoft, Koperasi, Kereta Api Indonesia, dan masih banyak lainnya. Namun bagaimana jika Rebranding nama? Ada beberapa orang, perusahaan ataupun grup yang sudah pernah Rebranding nama diantaranya NOAH (dulunya Peter Pan), Tetsuya (dulunya Tetsu 69), Sony (dulunya Sony Ericsson) untuk HP, dan saya sendiri yang mengganti nama blog ini dari hizaki09 menjadi adiyahizaki.

Ada beberapa alasan Rebranding perlu dilakukan, diantaranya


  1. Alasan finansial, perusahaan secara finansial melakukan reorganisasi dan sebuah identitas baru diperlukan untuk hal itu.
  2. Adanya kepemimpinan baru, untuk mengiringi awal kepemimpinannya, mereka ingin “tanda atau simbolnya” sendiri di perusahaan yang dipimpinnya.
  3. Analisa prospektif pasar, setelah sekian tahun perusahaan perlu menegaskan kembali targetnya dan merencanakan mengubah positioningnya pada area yang baru, sehingga perlu citra yang baru pula untuk merefleksikan hal tersebut.
  4. Merger, beberapa perusahaan bergabung menjadi satu perusahaan yang baru dengan nama baru.



Ada beberapa alasan lain dilakukannya rebranding dalam sebuah perusahaan yaitu:


  1. Identitas dari perusahaan tersebut tidak dapat mewakili pelayanan dari perusahaan tersebut.
  2. Perusahaan tersebut sudah memiliki reputasi yang buruk di mata masyarakat.
  3. Perusahaan tersebut ingin memberikan sesuatu yang baru, berupa pembenahan dalam perusahaan.
Nah, kali ini saya akan fokus tentang Rebranding nama. Menurut saya lebih sulit untuk Rebranding nama dibanding logo.



Rebranding membutuhkan perencanaan dan analisa yang matang. Jika salah dalam Rebranding, bisa jadi perusahaan akan semakin jatuh. Diperlukan promosi untuk mengenalkan kembali usaha tersebut. Salah satu yang berhasil adalah OLX, dulunya Tokobagus dan sekarang juga sudah merger dengan Berniaga. Melalui iklan, OLX kembali mengenalkan bahwa mereka adalah pembaharuan dari Tokobagus.

Seringkali dalam hal Rebranding, kita takut untuk melakukannya, apakah akan sukses atau tidak. Namun intinya, jangan takut untuk mengganti nama.  Ya, nama adalah asset, namun yang lebih penting adalah produk, service dan jasa yang kita tawarkan.  Jika nama yang kita pegang sudah tidak represent, jangan takut untuk diubah.

Instagram, Twitter, Facebook, semua adalah nama-nama baru yang melesat karena inovasi yang tak pernah berhenti. Mengutip William Shakespeare, “Apalah Arti Sebuah Nama?” Kalaupun kita memberi nama lain untuk Mawar, toh tetap akan wangi.  Sama seperti untuk sesuatu yang tidak baik, toh tetap akan tercium busuknya.

Jangan lupa untuk membaca tulisan saya berikutnya tentang "REPOSITIONING"

*berbagai sumber

Senin, 09 Februari 2015

Badut Jam Gadang Bukittinggi

Selamat malam


Malam ini saya ingin mengangkat sebuah judul yang lagi hot di berbagai media, online maupun cetak, yaitunya Badut di Jam Gadang Bukittinggi. Sebelumnya saya pernah membuat sebuah tulisan mengenai Street Photography di Bukittinggi, baca disini, Jam Gadang Bukittinggi, Surga bagi Streettogs Minang. Beberapa foto yang saya masukkan disana diambil di area Jam Gadang.


Badut di area Jam Gadang Bukittinggi saat ini semakin meresahkan pengunjung, khususnya bagi pengunjung yang ingin berfoto. Ada yang bilang Bandit Jam Gadang, ada yang bilang badut bandit, dll. Berikut berita yang saya kutip dari Haluan.


"... Rombongan Pemkab Te­manggung, Jateng melakukan serangkaian press tour di Bu­kittinggi melibatkan 16 war­tawan dan 14 jajaran Pem­kab dipimpin Sekda setempat. Mereka mengunjungi sentra pemasaran bordir dan ke­rajinan di Pasar Atas di samping dengar ekspos tentang UKM kotawisata. Mereka sa­ngat terkesan bordir kerancang hasil kerajinan Bukittinggi, namun kecewa dengan ulah badut. Karena itulah para wartawan tersebut juga ber­harap Pemko Bukittinggi segera menertibkan, sehingga tidak menimbulkan pandangan negatif tentang Bukittinggi yang indah. Kakan Satpol-PP, Syafnir membenarkan pihaknya dapat perintah langsung walikota  untuk melarang segala aktivitas badut di Taman Jam Gadang...." selengkapnya bisa dibaca disini.


Mereka mengungkapkan kekecewaannya dalam sebuah berita online. Sebagai seorang street photographer yang pernah melakukan street hunting disana, saya memang memperhatikan ulah badut-badut ini. Jika dilihat dari sudut pandang pengunjung, memang ulah badut ini makin lama makin menyebalkan. Ketika kita ingin berfoto bersama teman, keluarga, komunitas dll, mereka datang nyelonong, ikut berfoto, lha ini siapa nyelonong-nyelonong gak pake permisi? Kemudian setelah berfoto mereka meminta bayaran, biasanya yang saya dengar satu kali foto 5000 rupiah. Tapi sekarang saya dapat kabar ada yang meminta 20 ribu rupiah sampai 50 ribu rupiah, edan. Malah ada yang tidak mau dibayar, malah dipaksa.


Sekarang mari kita lihat dari sisi si badut. Saya memperhatikan mereka karena saya melakukan street hunting dari pagi sampai sore disana, jadi saya bisa mengamati semuanya. Mereka adalah sekelompok anak kecil, ada yang sudah remaja juga. Mereka melakukannya untuk mendapatkan uang, tapi kemudian uang tersebut tak selalu jadi milik mereka. Mereka harus melaporkan pada bos nya terlebih dahulu, saya lihat bos mereka ini berpakaian seperti seorang preman, saya tidak tahu dia preman apa dan area nya dimana saja.


Saya juga dapat informasi dari teman saya yang berasal dari Bukittinggi, katanya kebanyakan badut-badut ini adalah anak-anak jalanan yang hobi nya nge-lem. Namun jika dilihat mereka mengumpulkan uang, dari pagi hingga sore, bahkan sampai malam, tentu sangat menguras tenaga, oksigen (karena ditutupi kostum), dll. Belum lagi setoran buat bos mereka, mungkin bos nya juga ya yang menyediakan kostum. Di sela-sela street hunting, saya mendapatkan foto dua badut sedang istirahat karena letih dan kepanasan.





Bagi saya yang senang dengan fotografi jalanan, saya tidak menemukan kendala sama sekali. Tidak ada yang meminta bayaran kepada saya, tidak ada badut yang datang. Dari kedua sisi, saya tidak setuju badut-badut ini mengganggu pengunjung, kalau memang pengunjungnya tidak mau, ya sudah, namanya juga usaha. Namun saya tetap setuju badut-badut ini ada di area Jam Gadang, memberi nilai tambah sebuah tempat wisata. 


Yang perlu diperbaiki adalah bagaimana cara mereka bekerja, jangan kayak malakin orang. Ada penawaran, ada permintaan, ada harga yang disetujui, nah itu baru namanya bisnis. Bagi saya pribadi, yang terpenting adalah, pelanggan senang, yang punya usaha juga dapat untung. Saya tidak setuju dengan tindakan yang dilakukan pemerintah untuk mengusir dan melarang mereka pergi dari sana. Sediakan mereka fasilitas, buat aturan, berikan mereka edukasi, awasi mereka, suruh mereka membuat sebuah ijin usaha jika memang diperlukan (saya baca di haluan, aktifitas mereka ilegal), dan sebagainya, maka masalah ini bisa teratasi dengan baik. Bagaimana jika mereka nanti muncul di kawasan lain, tidak pakai kostum badut lagi, benar-benar pakai pakaian preman malakin orang. Masalah akan tetap berlanjut kalau itu yang dilakukan Pemerintah Daerah Bukittinggi.


Ini adalah sepenuhnya pemikiran saya tanpa ada tekanan apapun dari pihak lain. Jika anda setuju atau tidak, itu tergantung anda masing-masing. Kalau saya sendiri memiliki prinsip, berikan solusi untuk sebuah masalah yang akan menguntungkan semua pihak. Sebuah masalah yang tidak menghasilkan solusi yang menguntungkan semua pihak maka akan menghasilkan masalah baru lainnya.

Sekian terima kasih dan sampai jumpa di tulisan saya berikutnya. 

Minggu, 08 Februari 2015

Pengalaman dengan Klien di Kira Creative & Idea Consulting

Selamat siang

Siang ini saya ingin berbagi mengenai sebuah project yang akan saya jalankan berikutnya dibawah payung Kira Creative & Idea Consulting, sebuah usaha kreatif yang saya dirikan dibidang ide kreatif.

Kira Creative & Idea Consulting sudah berdiri selama kurang lebih 2 tahun. Saya bekerjasama dengan beberapa UMKM dan perusahaan diantaranya Roti Buaya Darat, Kira Shop Padang, Amore Shop Bukittinggi, Warner Disc dan Akeo Art.

Kira Creative & Idea Consulting selalu menjadi partner bagi beberapa usaha ini. Kami mendengarkan keluhan, mendengarkan apa yang menjadi target mereka, semuanya. Dari sana kami memberikan solusi dengan cara membuat sebuah ide yang nantinya akan menjadi program perusahaan tersebut untuk bisa mencapai target yang diinginkannya. Namun untuk beberapa usaha yang memang terkendala banyak, baik dari segi finansial, manajemen, hutang, dll seperti kasus yang terjadi di Warner Disc dan Roti Buaya Darat, kami mengatakan untuk segera menutup usaha tersebut.

Untuk Roti Buaya Darat, mereka dililit banyak hutang. Sebelum kami datang, mereka sudah berhutang ke banyak pihak. Untuk menutupi hutang yang satu, mereka berhutang lagi kepada yang lainnya, hingga akhirnya hal ini menyulitkan mereka. Saya menyarankan untuk menggunakan uang simpanan mereka untuk membayar semua hutang. Jika tetap memaksakan untuk melanjutkan usaha tersebut, mereka tidak akan bisa berkembang cepat karena mereka pun tidak melakukan riset sebelum membuka usaha, baik kualitatif maupun kuantitatif. Hingga keinginan mereka mendapatkan banyak pelanggan tidak terjadi di dunia nyata. Mereka memang harus menyusun perencanaan matang dari awal. Mulai dari Target Market, Costumer Need, Benefit, Logo, Tagline, dll.

Untuk kasus Warner Disc berbeda dengan Roti Buaya Darat. Dari awal sang pemilik sudah melakukan sebuah hal yang keliru, tidak ada dokumen, tidak ada kontrak tertulis, tidak ada aturan tertulis, hanya sebuah perbincangan dan pertemanan. Hal ini berdampak pada kinerja karyawan, hubungan dengan francishor, dan penyalahgunaan wewenang dan dana. Mereka datang kepada kami dalam keadaan yang sangat tidak diuntungkan. Saya mulai menganalisa semuanya dan saya mengambil sebuah keputusan. Ada dua opsi, apakah Warner Disc harus ditutup atau mereka tetap melanjutkannya. Saya menyarankan mereka menutupnya dan memulai lagi dari awal dengan sistem yang berbeda dimana ada kontrak tertulis, aturan, dll.

Kira Shop, Amore Shop, Akeo Art mengalami perkembangan yang berbeda. Mereka mampu melaju dan dikenal banyak orang melalui beberapa ide kreatif yang kami tawarkan.

Kira Shop dan Amore Shop terkenal dengan sistem Affiliate Marketers, Partnership dan ComBy (Recommended By). Untuk ComBy mereka memanfaatkan pelanggan yang sudah lebih dulu berbelanja pada mereka. Jika mereka menawarkan produk kepada temannya maka ia mendapatkan komisi 10%. 

Akeo Art (desain dan fotografi) saat ini mencoba untuk menggunakan sistem kami yaitunya menggunakan Brand Ambassador. Sudah banyak perusahaan lain yang menggunakan Brand Ambassador, tapi kami menggunakan anak-anak muda kreatif di area lokal untuk menjadi Brand Ambassador sehingga menghasilkan simbiosis mutualisme. 
Berikut contoh konsep Brand Ambassador yang kami terapkan di Akeo Art. Seorang penulis naskah teater dikemas dalam sebuah foto yang konseptual yang berkualitas.



Selanjutnya jika ada ide yang masuk dari karyawan, ide tersebut langsung dilaksanakan oleh sang pencetus ide, tentunya setelah melalui tahapan seleksi dan kurasi oleh pimpinan owner. Sistem partnership juga kami jalankan disini, diantaranya untuk produk Foto Wedding, Akeo Art memberikan souvenir boneka dari Kira Shop kepada pelanggan untuk memberikan pengalaman lebih (emotional benefit).

Masih banyak ide dan gagasan kreatif yang saya terapkan di Akeo Art karena kontrak kami dengan mereka cukup panjang, sekitar 1 tahun. Diantaranya kami akan membuat sebuah video singkat untuk promosi, tentunya dikemas dengan cara berbeda dengan video yang sudah ada.

Demikian beberapa pengalaman saya bersama beberapa rekan dan klien KC&IC. Bagi anda yang membutuhkan jasa Kira Creative & Idea Consulting silahkan hubungi saya di 08982698071 (Whatsapp) dan kunjungi fanpage nya di https://www.facebook.com/kiracreativeidea

Terima kasih dan selamat siang.

Sabtu, 07 Februari 2015

My First Photo Book - Mobile Photography

Selamat pagi sobat blogger.

Beberapa jam yang lalu saya baru saja mengupload photo book yang baru saja saya selesaikan desainnya di booksmart ke blurb.com.


Ini adalah kali pertama saya membuat sebuah photo book. Awalnya saya tahu blurb.com dari kujaja.com. Saat itu saya ikut dalam event One Minute On Earth di kujaja.com. Kujaja merangkum beberapa foto dari fotografer yang ikut dan menjadikannya sebuah buku yang diupload ke blurb.com.

Dari sana saya mulai penasaran. Apa sih blurb ini? Saya mencoba googling dan menemukan beberapa ulasan mengenai blurb. Waktu itu saya mencoba menggunakan aplikasi BookWright untuk membuat desain bukunya. Namun BookWright ternyata sangat sulit digunakan, bahkan tampilannya tidak sesuai dengan ukuran laptop saya sehingga tidak semua tampilan yang kelihatan. Saya jadi kesulitan dalam merancang buku tersebut.

Setahun setelahnya, tepatnya di awal tahun 2015 saya mencoba mencari cara membuat photo book di blurb.com, dan hasilnya saya mendapatkan sesuatu yang baru. Blurb tak lagi menggunakan BookWright, BookWright berganti dengan BookSmart yang sangat mudah digunakan. Ada aplikasi lain yang bisa digunakan untuk membuat photo book di blurb.com seperti Adobe InDesign dan Adobe Lightroom, namun saya lebih mudah menggunakan BookSmart. Sebenarnya saya memiliki Adobe Lightroom 1.1 namun untuk membuat photo book harus menggunakan Adobe Lightroom 4 atau 5.

Saya mencoba mencari tema yang cocok untuk buku pertama ini, dan saya mendapatkan inspirasi dari Go Ahead People dan Mobile Photography Awards yang saya ikuti di internet. Lahirlah sebuah buku dengan judul Mobile Photography dengan sub-title Photography Using Smartphone Camera. Disana saya memasukkan beberapa hasil foto yang saya buat selama 2 tahun terakhir menggunakan kamera ponsel Andromax C 2MP. Yah memang resolusi yang kecil namun saya tetap pede setelah beberapa foto yang saya ambil dengan kamera ponsel ini berhasil masuk galeri foto Kofipon Indonesia, Indonesia On The Streets dan Fotografi Jalanan Malaysia.

Saya mengupload nya ke blurb setelah selesai membuat desainnya di BookSmart. Sistemnya begini, kita cuma perlu membuat layout dan desainnya saja, termasuk konten tentunya. Nanti blurb yang akan mencetaknya jika ada pemesanan. Dag dig dug, begitulah rasanya saat proses upload berjalan. Setelah selesai saya melengkapi keterangan buku tersebut. Namun saya menemui kendala yang sebelumnya tidak saya perkirakan, kata Yoris Sebastian di buku Creative Junkies, itu namanya resiko yang tidak terduga.

Saya tidak memiliki kartu kredit, yah itulah salah satu hal yang tidak saya pikirkan sebelumnya. Saya masih bisa menggunakan Paypal tentunya, karena saya punya akunnya walau belum diverifikasi. Kemudian saat buku selesai saya lengkapi dengan keterangan-keterangan yang diminta blurb, ada satu hal lagi yang terjadi. Saya harus mengorder buku tersebut, saya pun mengorder buku saya. Namun sekali lagi, pembayaran lewat kartu kredit dan Paypal membuat semuanya terganjal. Saya tidak memiliki uang di dalam Paypal saya. Saya mencoba mencari tahu bagaimana cara memasukkan uang ke Paypal dari Bank Lokal. Ternyata prosesnya panjang dan membutuhkan waktu selama beberapa bulan. 

Yah, mungkin buku tersebut hanya akan bertahan dalam waktu setengah bulan di blurb. Tapi saya akhirnya senang, saya sudah membuat sebuah photo book. Next time saya akan mempersiapkan semuanya dengan lebih matang karena saya sudah mendapatkan banyak informasi dari photo book pertama ini.

Buat kamu yang ingin melihat photo book saya di blurb.com silahkan kunjungi link ini, http://www.blurb.com/b/5995155-mobile-photography.

Terima kasih dan sampai jumpa di cerita saya berikutnya.